<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu @zzam</title>
	<atom:link href="http://abuazzam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuazzam.wordpress.com</link>
	<description>Taman Para Pencari Kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 May 2008 09:14:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuazzam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu @zzam</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuazzam.wordpress.com/osd.xml" title="Abu @zzam" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuazzam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menghitung Hari dengan Sistem Penanggalan Hijriah</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2008/05/03/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2008/05/03/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 09:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[By pramesti • Sep 13th, 2007 at 4:19 pm • Category: Sistem Kalender Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=35&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="margin:auto 0;"><span style="font-size:10pt;"><a title="Email This Post" href="http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/email/"></a></span><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">By </span><a title="Posts by pramesti" href="http://langitselatan.com/author/pramesti/"><span style="font-family:Times New Roman;">pramesti</span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> • Sep 13th, 2007 at 4:19 pm • Category: </span><a title="View all posts in Sistem Kalender" href="http://langitselatan.com/category/sistem-kalender/"><span style="font-family:Times New Roman;">Sistem Kalender</span></a></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan sekitar sebelas hari tiap tahunnya, misalnya, hari raya haji tidak selalu datang pada musim yang sama. Kadang hari raya haji terjadi pada musim panas dengan sinar matahari yang terik, kadang terjadi pada musim dingin yang menggigil. Mengapa terjadi perbedaan sekitar sebelas hari antara penanggalan Islam dengan penanggalan yang kita gunakan sehari-hari, yang resmi digunakan oleh dunia internasional?</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perbedaan ini bukan karena jumlah bulan yang berbeda antara penanggalan Islam dengan penanggalan sehari-hari. Pada prinsipnya jumlah bulan dalam kedua sistem penanggalan adalah sama. Keduanya memiliki duabelas bulan dalam satu tahunnya. Tahun dalam kalender yang digunakan sehari-hari atau penanggalan masehi diawali dengan Januari dan berakhir dengan Desember. Tahun dalam penanggalan Islam atau Hijriah diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Diantaranya terdapat bulan Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulko’dah.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lantas apa yang membuat penanggalan Islam lebih cepat daripada penanggalan masehi? Pada penanggalan Islam pergantian bulan barunya adalah berdasarkan pada penampakan hilal, yaitu bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang. Hal ini tidak lain disebabkan penanggalan Islam adalah penanggalan yang murni berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam sistem penanggalannya (lunar calendar), yaitu siklus dua fase bulan yang sama secara berurutan.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Satu bulan dalam sistem penanggalan Islam terdiri antara 29 dan 30 hari, sesuai dengan rata-rata siklus fase sinodis Bulan 29,53 hari. Satu tahun dalam kalender Islam adalah 12 x siklus sinodis bulan, yaitu 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Itulah sebabnya kalender Islam lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan dengan kalender masehi dan kalender lainnya yang berdasarkan pada pergerakan semu tahunan matahari (solar calendar). Karena ini pula bulan-bulan dalam sistem penanggalan Islam tidak selalu datang pada musim yang sama. Selain itu, dalam jangka waktu satu tahun masehi bisa terjadi dua tahun baru hijriah. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 1943, dua tahun baru hijriah jatuh pada tanggal 8 Januari 1943 dan 28 Desember 1943.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perbedaan antara penanggalan hijriah dengan penanggalan masehi yang kita gunakan sehari-hari tidak berhenti disitu saja. Terdapat pula perbedaan pada pergantian harinya. Kita ketahui bahwa hari baru pada penanggalan masehi berawal pada jam 00.00 malam hari. Itu pula sebabnya orang sering mengucap selamat ulang tahun pada tengah malam jam 00.00 saat pergantian hari, dengan harapan ucapan tersebut menjadi ucapan pertama pada awal hari jadinya seseorang.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam penanggalan Hijriah hari baru berawal setelah Matahari terbenam dan berlangsung sampai saat terbenamnya Matahari keesokan harinya. Misalnya, hari pertama dimulai sejak matahari terbenam hari sabtu dan berakhir sampai matahari terbenam pada hari minggu. Hari kedua dimulai sejak matahari terbenam hari minggu sampai matahari terbenam keesokan harinya, hari senin. Begitu seterusnya. Ketujuh hari dalam penanggalan Hijriah memang tidak dinamai, melainkan dinomori. Ketujuh hari tersebut adalah:</span></span>&gt;<span id="more-35"></span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm al ‘ahad : hari pertama </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm al ‘ithnayn : hari kedua </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm ath thalatha : hari ketiga </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm al ‘arba’a : hari keempat </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm al khamis : hari kelima </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm al jum’a : hari keenam </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yawm as sabt : hari ketujuh </span></span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Untuk keperluan sipil sehari-hari, misalnya untuk negara-negara Islam yang memakai penanggalan Hijriah sebagai kalender resminya, penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Bulan terdiri dari 29 dan 30 hari secara bergantian. Dimulai dengan bulan Muharram yang terdiri dari 30 hari, disusul dengan Shafar 29 hari, kemudian Rabiul awal 30 hari dan seterusnya secara bergantian sampai bulan Dzulhijjah. Tetapi khusus untuk bulan terakhir ini jumlah hari bisa 29 atau 30 hari. Untuk tahun kabisat, bulan Dzulhijjah terdiri dari 30 hari. Untuk tahun basithoh (biasa), bulan Dzulhijjah terdiri dari 29 hari. Sehingga jumlah hari dalam tahun kabisat akan menjadi 355 hari.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Untuk keperluan keagamaan, misalnya untuk menentukan awal hari puasa atau hari raya, pergantian bulan pada penanggalan Hijriah tetap diwajibkan dengan dasar pengamatan hilal (rukyah). Pengamatan hilal ini pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan sumpah suci pengamat berikut saksi. Di Indonesia kita kenal Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama, yang bertugas mengamat hilal di suatu tempat khusus. Ilmuwan, dalam hal ini ahli ilmu falak dan astronom, tidak ketinggalan. Karena dapat atau tidak terlihatnya hilal dapat diprediksi dengan perhitungan yang sudah menjadi santapan sehari-hari mereka.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tetapi kadang suatu organisasi Islam punya acuannya sendiri dalam persoalan hilal ini. Satu dengan lainnya kadang tidak sejalan. Oleh karena itu tidak mengherankan sering terdapat perbedaan dalam memulai ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri, misalnya. Hal yang seringkali terjadi di tanah air. Walaupun demikian, hendaknya persoalan ini tidak menjadi pembeda yang dapat meresahkan umat.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Sejarah</strong><br />
Sistem penanggalan Islam (1 Muharram 1 Hijriyah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah, atas perintah Tuhan. Oleh karena itulah kalender Islam disebut juga sebagai kalender Hijriah. Di barat kalender Islam biasa dituliskan dengan A.H, dari latinnya Anno Hegirae. Peristiwa hijrah ini bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Jadi penanggalan Islam atau Hijriah (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak terbenamnya Matahari pada hari Kamis, 15 Juli 622 M.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Walaupun demikian, penanggalan dengan tahun hijriah ini tidak langsung diberlakukan tepat pada saat peristiwa hijrahnya nabi saat itu. Kalender Islam baru diperkenalkan 17 tahun (dalam perhitungan tahun masehi) setelah peristiwa hijrah tersebut oleh sahabat terdekat Nabi Muhammad sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khatab. Beliau melakukannya sebagai upaya merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kalender dengan 12 bulan sebetulnya telah lama digunakan oleh Bangsa Arab jauh sebelum diresmikan oleh khalifah Umar, tetapi memang belum ada pembakuan perhitungan tahun pada masa-masa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting biasanya hanya dicatat dalam tanggal dan bulan. Kalaupun tahunnya disebut, biasanya sebutan tahun itu dikaitkan dengan peristiwa penting yang terjadi pada masa itu. Misalnya tahun gajah, dan lain sebagainya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Setelah banyak persoalan muncul akibat tidak adanya sistem penanggalan yang baku, dan atas prakarsa Khalifah Umar, diadakanlah musyawarah dengan tokoh-tokoh sahabat lainnya mengenai persoalan penanggalan ini. Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama keduabelas bulan tetap seperti yang telah digunakan sebelumnya, diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peritiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota muslim pertama. Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=35&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2008/05/03/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum ‘Azl (Coitus Interruptus) dan Alat Kontrasepsi</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/25/hukum-%e2%80%98azl-coitus-interruptus-dan-alat-kontrasepsi/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/25/hukum-%e2%80%98azl-coitus-interruptus-dan-alat-kontrasepsi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 15:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[ ‘Azl adalah mengeluarkan sperma laki-laki diluar vagina wanita dengan tujuan untuk mencegah kehamilan. Dari Jabir ra berkata : Kami melakukan ‘azl pada masa nabi SAW dimana al-Qur’an masih terus diturunkan, dan hal tersebut diketahui oleh nabi SAW tetapi beliau tidak melarangnya [1]. Berkata Imam Ibnu Taimiyyah dalam fatwanya: Adapun mengenai ‘azl maka telah diharamkan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=33&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"> ‘Azl adalah mengeluarkan sperma laki-laki diluar vagina wanita dengan tujuan untuk mencegah kehamilan. Dari Jabir ra berkata : Kami melakukan ‘azl pada masa nabi SAW dimana al-Qur’an masih terus diturunkan, dan hal tersebut diketahui oleh nabi SAW tetapi beliau tidak melarangnya [1]. Berkata Imam Ibnu Taimiyyah dalam fatwanya: Adapun mengenai ‘azl maka telah diharamkan oleh sebagian ulama, tetapi menurut keempat mazhab hukumnya boleh asal seizin istri. Karena merupakan hak istri untuk menikmati keluarnya sperma tersebut, sebagaimana juga merupakan haknya untuk hamil, maka tidak terlarang melakukan ‘azl tersebut jika dengan izin dan ridha istri. Adapun sebab pengharaman sebagian ulama terhadap ‘azl adalah seolah-olah manusia telah mencampuri urusan ALLAH SWT dalam hal penciptaan mahkluk-NYA, atau takut tidak tercukupi rizkinya, dan sebagainya yang diharamkan oleh Islam. Maka kesemuanya dikembalikan kepada niatnya apakah karena darurat atau karena keraguan akan rizki ALLAH. Dari abu Said al-Khudri ra berkata: Disebutkan tentang ‘azl didepan rasuluLLAH SAW, maka beliau bertanya: Mengapa diantara kalian melakukan hal tersebut? Karena sesungguhnya tidaklah seorangpun diantara makhluk kecuali ALLAH pencipta-NYA [2]. Berkata DR al-Qardhawi dalam kitabnya “Halal dan Haram dalam Islam”: Menjadi sebuah keringanan (rukhshah) bagi muslim dalam masalah keturunan jika terdapat sebuah penyakit yang membutuhkan obat yang masuk akal atau hal yang darurat yang dibenarkan, menggunakan cara yang digunakan oleh orang-orang pada masa nabi SAW seperti ‘azl (dan telah ditemukan bermacam-macam cara di zaman sekarang yang disebut sebagai kontrasepsi). Diantara yang termasuk darurat yaitu: &gt;<span id="more-33"></span>Kekhawatiran akan kondisi atau kesehatan ibunya jika hamil atau menyusui yang kesemuanya itu harus karena pengalaman atau karena rekomendasi dokter yang terpercaya. ALLAH SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195) Juga yang termasuk darurat adalah kekhawatiran akan kondisi dan kesehatan janin atau keguncangan dalam pendidikannya. Telah datang seorang laki-laki kepada nabi SAW dan berkata: Wahai rasuluLLAH aku melakukan ‘azl saat berhubungan sex dengan istriku. Maka Nabi SAW bertanya: Mengapa kamu melakukannya? Maka jawab laki-laki tersebut: Saya khawatir kepada anak yang akan lahir. Maka kata Nabi SAW: Kalau ‘azl itu berbahaya maka pasti telah membahayakan bagi bangsa Persia dan Romawi [3]. Dalam hadits tersebut seolah-olah nabi SAW mengisyaratkan bahwa perbuatan tersebut merupakan hal yang bersifat personal sehingga tidak membahayakan bagi umat, ditunjukkan dengan perkataan bahwa hal tersebut tidak membahayakan bagi bangsa Persia dan Romawi (yang telah melakukan ‘azl sebelum bangsa Arab) yang kedua bangsa tersebut merupakan negara terkuat di dunia pada masa itu (Adapun jika ‘azl tersebut secara umum membahayakan umat dalam bentuk mengurangi jumlah ummat atau melemahkannya baik kualitas maupun kuantitasnya maka hukumnya haram). Diantaranya kekhawatiran sedang menyusui sementara harus hamil lagi (sehingga merusak kualitas susu dan melemahkan bayi), sehingga nabi SAW menyebut hubungan sexual saat menyusui sebagai merusak kualitas susu dan melemahkan bayi yang merupakan kiasan halus seolah-olah pembunuhan tersembunyi. Bersabda nabi SAW: Janganlah kalian bunuh anak-anakmu secara tersembunyi, karena sesungguhnya bersanggama saat menyusui bagaikan penunggang kuda yang saling berlomba[4]. Yang dimaksud saling berlomba adalah karena seorang wanita yang hamil, saat menyusui maka bayi yang dikandungnya dan anak yang sedang disusuinya saling berebut untuk mendapatkan air susu ibunya, seperti seorang penunggang kuda yang saling memacu kudanya (sampai disini selesai kutipan dari DR al-Qardhawi). Adapun mencegah kehamilan secara sengaja tanpa ada uzur / darurat baik menggunakan obat, atau operasi atau yang semisal dengan itu maka hukumnya haram karena yang demikian itu menghalangi keturunan yang diperintahkan untuk dijaga oleh Islam dalam rangka memakmurkan bumi. Berkata Imam Ibnu Hajar: Diharamkan menggunakan segala sesuatu yang dapat memutuskan/merusak janin dari rahim ibunya. Dan demikian pula hal tersebut berlaku bagi laki-laki, karena pada dasarnya Islam melarang perbuatan tersebut jika tanpa ada uzur/darurat. Dan telah bertanya abu Hurairah ra kepada nabi SAW: Agar diberikan keringanan untuk mengebiri dirinya karena tidak mampu menikah, sementara ia masih muda dan takut terjerumus kepada dosa, tetapi tidak diizinkan oleh nabi SAW [5]. REFERENSI: [1] Dikeluarkan oleh Muslim [2] Dikeluarkan oleh Muslim [3] Dikeluarkan oleh Muslim [4] Dikeluarkan oleh Abu Daud [5] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=33&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/25/hukum-%e2%80%98azl-coitus-interruptus-dan-alat-kontrasepsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tragis Nasib Kaum Muslimin, Masjid-Masjid Malah Dirubah Jadi Arena Pacuan Kuda, Bioskop…!!</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/15/tragis-nasib-kaum-muslimin-masjid-masjid-malah-dirubah-jadi-arena-pacuan-kuda-bioskop%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/15/tragis-nasib-kaum-muslimin-masjid-masjid-malah-dirubah-jadi-arena-pacuan-kuda-bioskop%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 09:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[YUNANI: Tragis Nasib Kaum Muslimin, Masjid-Masjid Malah Dirubah Jadi Arena Pacuan Kuda, Bioskop…!! Rabu, 13 Februari 08 Sebuah sumber di Yunani menuding pemerintah telah bersikap melampaui batas. Sumber itu mengatakan, “Melarang umat Islam Yunani mendirikan masjid merupakan tindak kriminal terhadap hak warga negara ini dan warga pendatang yang tinggal di dalamnya. Sebab hingga saat ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=32&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul">YUNANI: Tragis Nasib Kaum Muslimin, Masjid-Masjid Malah Dirubah Jadi Arena Pacuan Kuda, Bioskop…!!<br />
<span class="kalender">Rabu, 13 Februari 08</span></p>
<p align="justify"><img border="0" align="left" width="130" src="http://abuazzam.wordpress.com/wp-admin/images/bdi-1-130208.jpg" height="100" />Sebuah sumber di Yunani menuding pemerintah telah bersikap melampaui batas. Sumber itu mengatakan, “Melarang umat Islam Yunani mendirikan masjid merupakan tindak kriminal terhadap hak warga negara ini dan warga pendatang yang tinggal di dalamnya. Sebab hingga saat ini, sekalipun pemerintahan sudah silih berganti masih saja mengulur-ulur pembangunan masjid.”</p>
<p>Saat ini, banyak sekali masjid-masjid di Yunani dan pusat-pusat keislaman dirubah menjadi arena pacuan kuda, gedung bioskop, sanggar tari dan lainnya. Sikap ini seiring dengan diperketatnya pengawasan terhadap umat Islam dengan melarang mereka mendapatkan pekerjaan, mempersulit pemberian surat izin pembangunan masjid atau pun membuka peluang bisnis. Bahkan propaganda kristenisasi demikian gencar dilakukan terhadap mereka.!!</p>
<p>Di samping itu, sumber itu juga menegaskan, upaya yang dilakukan gereja Orthodoks terus berjalan sesuai rencana mereka, khususnya berbarengan dengan ditingkatkannya langkah pengekstradisian umat Islam dari kawasan utara Yunani ke kawasan kota-kota besar seperti Athena dan Salonic. Hal ini berdampak negatif terhadap sebagian umat Islam, khususnya suku Ghajer di mana banyak anak-anak mereka masuk Kristen. Untungnya, mereka cepat menyingkap tipu muslihat dan iming-iming yang dijanjikan kepada mereka itu.!</p>
<p>Syukur pula, kini aktifitas tersebut sudah menurun drastis, mengingat masalah seperti ini demikian sensitif bagi umat Islam asal Yunani sendiri yang mencapai angka 600 ribu jiwa.</p>
<p>&gt;<span id="more-32"></span></p>
<p>Lebih jauh, sumber itu menambahkan, “Atas kejadian itu, kemudian dibuatlah kesepakatan oleh para pimpinan agama dalam sebuah piagam ‘kehormatan.’ Piagam ini melarang upaya-upaya kristenisasi terhadap pemeluk agama lain. Selain itu, gereja Orthodoks juga menyetujui untuk tidak campur tangan dalam urusan internal umat Islam dan tidak melancarkan kritikan-kritikan terhadap prilaku yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Demikian pula sebaliknya, pimpinan direktorat keislaman setempat dituntut untuk melakukan langkah serupa. Faktor inilah yang kemudian secara tidak langsung berhasil menghambat aktifitas-aktifitas kristenisasi tersebut.” Demikian seperti dikutip surat kabar El Lewa, yang terbit di Yordania.</p>
<p>Seperti diketahui, kondisi ekonomi umat Islam Yunani sangat memprihatinkan dan mengenaskan. Kebanyakan mereka terpaksa hidup di hutan-hutan dan di antara pepohonan rimbun. Sementara kegiatan perekonomian mereka hanya sebatas pertanian, khususnya di kebun-kebun. Meskipun sebagian mereka ada yang menggeluti bisnis, namun jumlahnya dapat dihitung dengan jari.</p>
<p>Nampaknya, kondisi ekonomi yang sulit ini sebagai imbas dari sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh beberapa pemerintahan terdahulu sejak 30 tahun lalu. Semoga Allah menolong kaum Muslimin di sana.! (almkhtsr/AH)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=32&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/15/tragis-nasib-kaum-muslimin-masjid-masjid-malah-dirubah-jadi-arena-pacuan-kuda-bioskop%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuazzam.wordpress.com/wp-admin/images/bdi-1-130208.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jasad Penghafal Al Quran Ditemukan Utuh</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/13/jasad-penghafal-al-quran-ditemukan-utuh/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/13/jasad-penghafal-al-quran-ditemukan-utuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 12:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 18 Februari 08 JOMBANG .Warga Dusun Bangunrejo Desa Gondek Kec Mojowarno geger. Pasalnya, salah satu warga menemukan salah satu jasad yang berumur 28 tahun itu masih utuh. Penemuan jasad yang diketahui bernama Mbok Raki itu pertama kali ditemukan Sutaji. Saat itu ia sedang membersihkan salah satu saluran irigasi di sawah. Ia tiba-tiba dikejutkan adanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=27&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="judul"><span class="kalender">Senin, 18 Februari 08</span></p>
<p align="justify">JOMBANG .Warga Dusun Bangunrejo Desa Gondek Kec Mojowarno geger. Pasalnya, salah satu warga menemukan salah satu jasad yang berumur 28 tahun itu masih utuh. Penemuan jasad yang diketahui bernama Mbok Raki itu pertama kali ditemukan Sutaji.</p>
<p>Saat itu ia sedang membersihkan salah satu saluran irigasi di sawah. Ia tiba-tiba dikejutkan adanya jenazah yang longsor akibat saluran air yang menggerus itu.</p>
<p>“Awalnya saya kaget. Apalagi jenazah itu masih tampak utuh dengan balutan kain kafan yang masih menempel,” kata Sutaji.</p>
<p>Setelah ia teliti, ternyata jenazah tersebut berasal dari salah satu makam yang di batu nisannya tertulis nama Mbok Raki. Dari sana dia baru sadar, jika Mbok Raki itu telah meninggal 28 tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya.</p>
<p>Beberapa warga juga memastikan jika jasad tersebut adalah Mbok Raki. Tak hanya warga saja yang ikut memastikan, sejumlah keluarga Mbok Raki juga sempat menilik jasad yang masih utuh tersebut. “Keluarganya juga yakin, jika jasad itu adalah Mbok Raki,” terangnya.</p>
<p>Iapun akhirnya tak heran dengan kondisi jasad yang masih utuh itu. Pasalnya, Mbok Raki dikenal dengan ibu yang gemar membaca Al-Quran semasa hidupnya. Bahkan, ia bisa menghafal seluruh isi Al Quran. “Memang dia hafidho (hafal al Quran). Pantas saja jenazahnya masih utuh meski puluhan tahun sudah dikuburkan,” paparnya.</p>
<p>Tak pelak, jenazah Mbok Raki ni menjadi tontonan beberapa warga yang ingin memastikan keajaiban para penghafal Al Quran itu. Namun salah satu keluarga Mbok Raki meminta agar jenazah salah satu keluarganya tersebut kembali dimakamkan.</p>
<p>Asmirin salah satu cucu Mbok Raki mengatakan, selama hidup neneknya tersebut memang rajin membaca Al Quran. Bahkan neneknya tersebut sempat mengajarkan bagaimana menghafal seluruh isi kitab suci agama Islam itu. “Tapi tak sampai selesai, beliau sudah meninggal,” kata Asmirin sembari langsung ikut mengubur kembali jenazah neneknya itu. (Tritus Julan/Sindo/ahm)<br />
(SUMBER: www.okezone.com . Rabu, 6 Februari 2008 &#8211; 21:04 WIB)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=27&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2008/03/13/jasad-penghafal-al-quran-ditemukan-utuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Idul Qurban</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/12/18/idul-qurban/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/12/18/idul-qurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 02:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/2007/12/18/idul-qurban/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang anda sampaikan termasuk yang menguatkan hujjah mereka yang mendukung perbedaan hari Raya. Karena bumi itu bulat, maka tiap titik di permukaan bumi menghadap ke langit yang berbeda. Sehingga bila ada hilal terllihat dari suatu titik di muka bumi, tentu belum tentu akan terlihat di semua titik yang lain. Pengetahuan tentang bulatnya bumi itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=21&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang anda sampaikan termasuk yang menguatkan hujjah mereka yang mendukung perbedaan hari Raya. Karena bumi itu bulat, maka tiap titik di permukaan bumi menghadap ke langit yang berbeda. Sehingga bila ada hilal terllihat dari suatu titik di muka bumi, tentu belum tentu akan terlihat di semua titik yang lain.</p>
<p>Pengetahuan tentang bulatnya bumi itu baru diakui secara umum pada beberapa abad terakhir ini saja. Orang-orang di masa nabi, masa shahabat bahkan pada ulama salaf, agaknya belum menyadari hal ini.</p>
<p>Sehingga wajar pulabila kita mendapati ada beberapa ulama yang tetap ingin menjadikan seluruh muka bumi ini satu <em>mathla&#8217;</em>, seolah-olah bumi ini rata seperti hamparan pada permukaan meja.</p>
<p>Memang seandainya bumi kita ini rata seperti meja, kemungkinan hilal akan terlihat dari seluruh tempat di permukaan bumi sangat besar. Cita-cita satu bumi satu <em>mathla&#8217; </em>memang mudah direalisasikan seandainya bumi ini tidak bulat tapi rata seperti meja. Sebab semua orang di permukaan bumi bisa melihat hilal bersama-sama dan akan kelihatan dengan jelas.&gt;<span id="more-21"></span></p>
<p><strong>Ta&#8217;addul Mathali&#8217;</strong></p>
<p>Di masa lalu tidak terlalu banyak ulama yang berprinsip <em>ta&#8217;addud al-mathali&#8217;</em>, yaitu dimungkinkannya negeri-negeri Islam berbeda dalam melihat keberadaan hilal. Suatu wilayah yang memang melihat hilal boleh melakukan istikmal atau penggenapan usia bulan menjadi 30 hari. Sedangkan di wilayah lain karena hilal nampak, maka mereka boleh memutuskan usia bulan menjadi 29 hari.</p>
<p>Salah satu yang bisa disebut sebagai pelopornya adalah Al-ImamAsy-Syafi&#8217;i (150-204 H). Beliausejak awal cenderung mengatakan bahwa tiap tempat di muka bumi punya mathla&#8217; sendiri-sendiri. Oleh karena itu bisa saja mereke saling berbeda dalam urusan melihat hilal. Ada wilayah yang bisa melihatnya dan ada wilayah tidak bisa melihatnya.</p>
<p>Seolah-olah beliau sudah menyadari kalau ternyata bumi itu bulat. Pemandangan langit tiap wilayah tidak akan sama. Di wilayah yang satu hilal terlihat, di wilayah lain hilal tidak terlihat.</p>
<p>Dan karena bumi kita ini berputar pada porosnya dari arah barat ke timur, maka secara semu, semua benda langit akan terlihat bergerak dari timur ke barat.Bila ada hilal terlihat di satu tempat, wilayah yang sebelah timur tempat tersebut tidak akan melihatnya. Yang berada di sebelah baratnya saja yang akan melihatnya.</p>
<p>Dan kira-kira hal itulah yang terjadi pada saat <em>rukyatul hilal </em>kemarin Ahad 9 Desember. Di wilayah Indonesia dan sekitarnya, umumnya orang tidak melihat hilal. Namun 4 jam kemudian, orang-orang yang berada di Saudi Arabia bisa melihatnya.</p>
<p>Tentunya secara logika, mereka yang tinggal di sebelah barat Saudi seperti Afrika dan seterusnya, akan punya kemungkinan melihat hilal, asalkan tidak tertutup awan atau halangan lain.</p>
<p><strong>Dua Mazhab</strong></p>
<p>Namun realitanya memang demikian, bahwa di tengah umat berkembang dua mazhab. Yang satu inginnya semua wilayah disatukan dalam penetapanhari Raya, lepas apakah hilal terlihat atau tidak. Yang lain memberikan kebebasan kepada penduduk negeri itu untuk menetapkan sendiri waktu-waktu ibadah mereka, sebagaimana perbedaan jam untuk menetapkan waktu shalat.</p>
<p>Sehingga sampai kapan pun kemungkinan terjadinya perbedaan hari Raya tetap akan terjadi. Kecuali ada semacam kesepakatan antara para penguasa dan fuqaha&#8217; di seluruh permukaan planet bumi ini untuk bersatu dalam penetapan hari Raya.</p>
<p>Bayangkan kapan bisa terjadi para ulama dan penguasa dunia Islam berkumpul jadi satu, lalu mereka sepakat menandatangani pakta bersama untuk penetapan hari Raya. Kalau hal itu bisa terjadi, wah tentu sangat indah.</p>
<p>Tapi&#8230;</p>
<p>Kapan ya kira-kira hal itu terjadi?</p>
<p>Seorang murid tiba-tiba nyeletuk, &#8220;Pak Ustadz, mungkin kalau bumi kita sudah rata seperti meja&#8221;, Kami hanya terdiam sambil mikir.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam bishshawab, Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </em></p>
<p><strong>Ahmad Sarwat, Lc</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=21&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/12/18/idul-qurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Mengenang Seabad Mohammad Natsir”</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/21/%e2%80%9cmengenang-seabad-mohammad-natsir%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/21/%e2%80%9cmengenang-seabad-mohammad-natsir%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 04:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/21/%e2%80%9cmengenang-seabad-mohammad-natsir%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=19&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>15 November 2007</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">), di Gedung Mahkamah Konstitusi, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Jakarta</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, digelar sebuah acara peluncuran panitia <strong>Refleksi Seabad Moh. Natsir</strong>: <em>Pemikiran dan Perjuangannya</em>. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bagi umat Islam </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">lima</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.</span></p>
<p>&gt;<span id="more-19"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Menteri</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">RI</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> pertama tahun 1950-1951, setelah </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (<em>Grand Gordon</em>) dari Presiden </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tunisia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (<em>Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) </em>atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">India</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota <em>Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (</span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Hollands</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Inlandsche</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">School</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (<em>Meer Uitgebreid Lager Onderwijs</em>) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (</span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Algemene</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Middelbare</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">School</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">) di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bandung</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi <em>Meester in de Rechten</em>, atau kuliah ekonomi di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Rotterdam</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (<em>Lager Onderwijs</em>). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bandung</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir <em>Fii Dzilalil Quran</em>, Tafsir <em>Ibn Katsir</em>, dan Tafsir <em>al-Furqan </em>karya A. Hasan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Malaysia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”<em>Suara Azan dan Lonceng Gereja</em>”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:</span></p>
<p style="margin-left:0.25in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Nederland</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> en de Islam</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, ”<em>Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” </em>(Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, supaya di masa yang akan datang, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:</span></p>
<p style="margin-left:0.25in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bandung</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">: CV Bulan Sabit, 1969).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">16 November 2007</span>]</p>
</td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=19&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/21/%e2%80%9cmengenang-seabad-mohammad-natsir%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sutrah Dalam Sholat</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/17/sutrah-dalam-sholat/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/17/sutrah-dalam-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 05:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/17/sutrah-dalam-sholat/</guid>
		<description><![CDATA[Sutrah Dalam Sholat 1. Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman). (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=18&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Sutrah Dalam Sholat</strong></p>
<p>1. Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman). (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)</p>
<p>2. Dari Abu Said Al-Khudri radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>Jika shalat salah seorang diantara kalian, hendaklah shalat menghadap sutrah dan hendaklah mendekat padanya dan jangan biarkan seorangpun lewat antara dia dengan sutrah. Jika ada seseorang lewat (didepannya) maka perangilah karena dia adalah syaitan. (HR. Ibnu Abi yaibah dalam Al-Mushannaf 1/279, Abu Dawud dalam As-Sunan 297, Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 954, Ibnu Hibban dalam As-Shahih 4/48, 49-Al-Ihsan, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/267, sanadnya hasan) Di dalam riwayat lain (yang artinya): (Karena) sesungguhnya setan lewat antara dia dengan sutrah.</p>
<p>Mengomentari hadits Abu Said di atas As-Syaukani berkata: Padanya (menunjukkan) bahwa memasang sutrah itu adalah wajib. (Nailul Authar 3/2). Beliau juga berkata: Dan kebanyakan hadits- hadits (dalam masalah ini) mengandung perintah dengannya dan dhahir perintah (menunjukkan) wajib. Jika dijumpai sesuatu yang memalingkan perintah-perintah ini dari wajib ke mandub maka itulah hukumnya. Dan tidak tepat dijadikan pemaling (pengubah hukum) sabda shallallahu `alaihi wa sallam (yang artinya): Sesungguhnya tidak memudharatkan apapun yang lewat di depannya karena menghindarnya orang shalat dari perkara yang memudharatkan shalatnya dan menghindari hilangnya sebagian pahalanya adalah wajib atasnya. (As-Sailul Jarar 1/176)</p>
<p>Di antara perkara yang menguatkan wajibnya: Sesungguhnya sutrah merupakan sebab syari yang menyebabkan tidak sahnya shalat karena lewatnya wanita baligh, keledai dan anjing hitam sebagaimana telah sah yang demikian itu dalam hadits yang menyatakan larangan orang lewat di depan orang shalat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan sutrah. (Tamamul Minnah hal. 300)</p>
<p>5. Qurrah bin Iyas berkata: Umar melihatku sedangkan aku (ketika itu) shalat di antara dua tiang. Maka dia memegang tengkukku dan mendekatkan aku ke sutrah seraya berkata: Shalatlah menghadap kepadanya. (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya 1/577 [lihat pula Al-Fath] secara muallaq 3 dengan lafadz jazm (pasti datang dari Rasulullah, pent) dan disambungkan [sanadnya] oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 2/370)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Umar memaksudkan perbuatannya itu agar shalat (Qurrah bin Iyas) menghadap sutrah. (Fathul Bari 1/577)</p>
<p>6. Dari Nafi,ia berkata :Bahwa Ibnu Umar jika tidak mendapati tempat yang menghadap tiang dari tiang-tiang Masjid, lalu ia berkata padaku <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> alingkan kepadaku punggungmu (untuk dijadikan sutroh,pent).(Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/279 dengan sanad shahih).</p>
<p>7. (Dalam suatu riwayat) bahwa Salamah bin Al-Akhwa meletakkan batu di tanah.Jika dia mau mengejakan Sholat ,dia menghadap kepadanya.(Ibnu Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/278)</p>
<p>8. Dari Ibnu Abbas r.a. Aku memasang tongkat di depan Rosulullah SAW ketika di Arafah.Beliau sholat menghadapnya dan keledai lewat dibelakang tongkat.(Ahmad dalam Al-Musnad 1/243,Ibnu Khuzaimah dalah As-Shahih 840,Thabari dalam Al-Mujamul Kabir 11/243 dan sanad dari Imam Ahmad:hasan)&gt;<span id="more-18"></span></p>
<p><strong>TENTANG JARAK KITA DENGAN SUTROH</strong></p>
<p>9. Diriwayatkan bahwa :Rasulullah SAW berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta (HR.Bukhari dan Ahmad)</p>
<p>10. Diantara tempat sujud beliau dengan dinding ada tempat berlalu kambing (H.R Bukhari dan Muslim)</p>
<p>11. Beliau bersabda :Apabila salah seorang di antara kamu sholat menghadap tabir, maka hendaklah ia mendekatkan dirinya kepada tabir itu, sehingga setan tidak memutuskan dia dari sholatnya . (Abu Daud Al-Bazzar (p.54 Az-Zawaid),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan An-Nawawi)</p>
<p><strong>BENDA-BENDA YANG BISA DIJADIKAN SUTROH</strong></p>
<p>12. Dan kadangkala beliau menjadikan kendaraannya sebagai tabir,lalu sholat dengan menghadap kendaraannya itu. (H.R Bukhari dan Ahmad)</p>
<p>13. Hal ini berbeda dengan sholat di tempat berbaring unta .Karena beliau telah melarangnya (Muslim dan Ibnu Khuzaimah (92/2) dan Ahmad</p>
<p>14. Kadangkala :Beliau membawa semacam pelana ,lalu meluruskannya ,kemudian beliau sholat dengan menghadap kepada ujung pelana itu (H.R Bukhari dan Ahmad)</p>
<p>15. Rasulullah SAW bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu meletakkan semacam ujung pelana di hadapannya,maka hendaklah ia shalat dengan tidak menghiraukan orang yang berlalu di belakangnya(ujung pelana itu) (H.R Mulim dan Abu Daud)</p>
<p>16. Diriwayatkan bahwa :Sesekali beliau shalat dengan menghadap ke sebuah pohon.(H.R NasaI dan Ahmad dengan sanad yang shahih).</p>
<p>17. Kadangkala beliau shalat dengan menghadap ke tempat tidur,sedangkan Aisyah r.a berbaring di atasnya -dibawah beludrunya- (Al Bukhari,Muslim,dan Abu Yala(3/1107 -Mushawwaratu l-Maktab)</p>
<p>18. Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir.Dan pernah : Beliau shalat,tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya,lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau- (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1),Ath-Thabrani(3/104/3),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.</p>
<p><strong>PERINGATAN KERAS BAGI YANG MELANGGAR SUTROH ORANG YANG SHOLAT</strong></p>
<p>19. :Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya,niscaya untuk berhenti selama 40 tahun,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya .(H.R Al &#8211; Bukhari dan Muslim,riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).</p>
<p><strong>20. HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN SHALAT</strong></p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: Shalat seorang laki-laki,apabila tidak ada semacam ujung pelana dihadapannya,maka akan diputus oleh :wanita -yang haid (atau balighah), keledai dan anjing hitam .</p>
<p>Abu Dzar berkata bahwasanya ia berkata,Wahai Rasulullah,apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah ? beliau bersabda,Anjing hitam adalah setan . (H.R Muslim,Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/95/2)</p>
<p>Artikel ini diketik ulang dari berbagai sumber seperti :</p>
<p>1. Kitab Al-Qaulul Mubin fi Akhtail Mushallin.Diterjemahkan oleh Suyuthi Abdullah</p>
<p>2. Kitab Sifat Sholat Nabi , oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=18&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/11/17/sutrah-dalam-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perluasan Da’wah Berdampak Penurunan Kualitas?</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/24/perluasan-da%e2%80%99wah-berdampak-penurunan-kualitas/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/24/perluasan-da%e2%80%99wah-berdampak-penurunan-kualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 02:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/24/perluasan-da%e2%80%99wah-berdampak-penurunan-kualitas/</guid>
		<description><![CDATA[Perluasan Da’wah Berdampak Penurunan Kualitas? Ketika tuntutan da’wah mengarahkan kerja kita pada perluasan wilayah da’wah dengan peningkatan rekrutmen kader, muncul penilaian di sementara kalangan bahwa kualitas kader-kader baru semakin menurun. Benarkah ini? Bagaimana kita memandang persoalannya? Bila dilihat secara permukaan, sangat mungkin penilaian itu benar. Tetapi dengan cara pandang yang utuh, kita bisa menguji kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=17&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><font color="#0000ff">Perluasan Da’wah Berdampak Penurunan Kualitas?</font></strong><font size="2" face="Arial"><br />
Ketika tuntutan da’wah mengarahkan kerja kita pada perluasan wilayah da’wah dengan peningkatan rekrutmen kader, muncul penilaian di sementara kalangan bahwa kualitas kader-kader baru semakin menurun. Benarkah ini? Bagaimana kita memandang persoalannya?</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Bila dilihat secara permukaan, sangat mungkin penilaian itu benar. Tetapi dengan cara pandang yang utuh, kita bisa menguji kembali keabsahan penilaian itu. Ada hal-hal prinsip yang harus dipahami.</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Pertama</strong></font><font size="2" face="Arial">, perluasan da’wah berarti memperluas wilayah interaksi da’wah ke berbagai unsur dan segmen masyarakat yang sangat beragam. Keberagaman sosio-demografis, tentu saja berpengaruh kepada keberagaman standar kualitas penerimaan da’wah. Dalam sunnah da’wah, as-sabiqunal awwalun selalu memiliki standar kualitas lebih tinggi dari generasi berikutnya.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Sampai kemudian terjadi upaya tajdid (pembaharuan) atas kualitas generasi berikutnya. &#8220;Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga keni’matan. Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian.&#8221; (QS. 56:11-14).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Generasi awal da’wah ini direkrut dari unsur pemuda terdidik yang memiliki kesiapan optimal untuk menjadi anashir da’wah yang muntij (produktif). &#8220;Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: &#8220;Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.&#8221; (QS. 18:13-14).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Sekarang ini, perluasan da’wah menghasilkan rekrutmen dari beragam segmen (misalnya: kaum pekerja, ibu rumah-tangga, buruh, dan lain sebagainya) dengan keberagaman tingkat penerimaan Islam dan keberagaman tingkat interaksi da’wahnya. Sehingga sangat mungkin di antara mereka ada orang-orang seperti digambarkan dalam ayat: &#8220;Orang-orang Arab Badwi itu berkata: &#8220;Kami telah beriman&#8221;. Katakanlah: &#8220;Kamu belum beriman, tetapi katakanlah &#8220;Kami telah tunduk&#8221;. Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (QS. 49:14).</font><span id="more-17"></span></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Kedua</strong></font><font size="2" face="Arial">, perluasan wilayah da’wah juga menuntut pengembangan pada uslub (metode), wasilah (sarana) dan ijro’at (mekanisme) rekrutmen dan pembinaan. Pada generasi awal da’wah, ada kebutuhan percepatan proses pembinaan ke arah takwin. Sehingga dalam waktu relatif singkat, terbangun komitmen Islam dan komitmen da’wah yang kuat. Lalu semakin dimatangkan dengan interaksi da’wah secara langsung. &#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.&#8221; (QS. 3:104).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Ketika terjadi perluasan da’wah, proses pengkondisian dan seleksi da’wah berjalan lebih panjang. Ini penting, untuk mengukur tingkat kesiapan penerimaan da’wah sehingga kita tidak memberikan beban melampaui kadar kemampuan obyek da’wah. Metode, sarana dan mekanisme rekrutmen serta pembinaan pun dikembangkan sedemikian rupa, sehingga bisa menjangkau dan menampung obyek da’wah secara lebih masal. &#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.&#8221; (QS. 5:35).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Bila kita amati perkembangan da’wah ‘ammah dalam 5 sampai 10 tahun terakhir, ada banyak ijtihad dalam pola rekrutmen dan pembinaan da’wah. Ini hal yang baik dan dimungkinkan, karena ada dalam wilayah mutaghayyirat (hal-hal yang dinamis).</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Ketiga</strong></font><font size="2" face="Arial">, da’wah Islam sesungguhnya membutuhkan sangat banyak anashir dengan beragam kondisi dan kemampuannya. Di antara mereka ada yang dijadikan qaidah siyasiyah (basis kepemimpinan) , qaidah fikriyah (basis pemikiran), qaidah harakiyah (basis gerak) dan juga qaidah ijtima’iyah (basis sosial). Bahkan dalam sunnah da’wah, qaidah ijtima’iyah harus jauh lebih besar dari basis-basis da’wah lainnya. Perbedaan setiap qaidah tentu saja mengarah kepada perbedaan standar kualitas yang dimiliki. Sehingga yang dibutuhkan dalam melihat keberagaman standar kualitas adalah pada siasat untuk menempatkan dan mendayagunakan anashir tersebut dalam bangunan amal jama’i da’wah. Perhatikan firman Allah SWT: </font></p>
<p><font size="2" face="Arial">&#8220;Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah kamu sesuai dengan keadaanmu. Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.. .&#8221; (QS. 39:39).</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Terakhir</strong></font><font size="2" face="Arial">, tentu saja Allah SWT telah meletakkan miqyar ‘aam (standar umum) dalam menilai keimanan dan keshalehan seseorang. Parameternya disebutkan dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga bingkai besar kita dalam menilai dan menimbang kualitas kader adalah pada timbangan Islam itu sendiri. Tidak lebih dan tidak kurang. Firman Allah SWT: &#8220;Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kami mengurangi neraca itu.&#8221; (QS. 55:7-9). Jadi selama aspek-aspek kualitas kader da’wah tidak keluar dari bingkai umum ajaran Islam, maka mereka adalah kader yang berkualitas.</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Mensikapi &#8220;Kesalahan&#8221; Kader</strong></font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Dari keempat prinsip ini, kita akan mampu melihat masalah ini secara lebih utuh dan obyektif. Akan tetapi, barangkali ada yang menyoroti menurunnya kualitas dari sisi terjadinya kasus-kasus pelanggaraan syari’at dalam beberapa aspek kehidupan. Baik dalam urusan mu’amalah ataupun da’wah. Bagaimana ini?</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Bila ini terjadi, memang hal yang memprihatinkan. Karena sejatinya kader-kader da’wah menjadi orang-orang terdepan dalam melakukan kebajikan dan juga terdepan dalam meninggalkan kemunkaran. Tetapi manusia adalah tempatnya kesalahan. Dan Allah SWT menyediakan sifat</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Pema’af, Pengampun dan Penerima Taubat kepada manusia-manusia beriman yang melakukan kesalahan. Artinya kesempurnaan ajaran Islam muncul ketika Islam menerima kesalahan perbuatan manusia sebagai keniscayaan, dan memberikan jalan bagi perbaikannya. Ini tinjauan dari sisi manusia sebagai individu.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Tinjauan lain adalah proses tasyri’. Sebagian dari syari’at Islam diturunkan Allah SWT karena kasus-kasus kesalahan yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Penetapan hukum ini berkaitan dengan urusan rumah-tangga, jual-beli, makan-minum, ibadah, da’wah dan juga jihad. Artinya, ketika terjadi kesalahan-kesalahan dalam komunitas da’wah, maka hal itu mesti diperlakukan dalam perspektif tasyri’.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Di sinilah kemudian pola hubungan qiyadah-jundiyah diberlakukan dalam konteks penerapan syari’at Islam. Perhatikan firman Allah SWT: &#8220;Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan izin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan. Dan mereka menerima dengan sepenuhnya.&#8221; (QS. 4:64-65).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Dalam kaitan ini, maka da’wah dan jajaran qiyadahnya di semua lini harus mampu mengelola masalah-masalah semacam ini untuk pengokohan tahqiq as-syari’ah dalam kehidupan berjama’ah. Juga untuk mematangkan kualitas kader ketika mereka belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang terjadi. Marilah kita mengambil ibrah dari kisah Haditsul-Ifki yang</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">menggegerkan itu. &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong iyu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.&#8221; (QS. 24:11).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Pada sisi lain, ketika ada sementara orang yang sulit diperbaiki dari kesalahan-kesalahan nya, sangat mungkin ia merupakan cara Allah untuk membersihkan shaf da’wah. &#8220;Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki- Nya diantara rasul-rasulNya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.&#8221; (QS. 3:179).</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong>Jalan Memperbaiki Kesalahan</strong></font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Dengan memahami pandangan yang lebih utuh tentang kualitas kader dan kasus-kasus kesalahan yang terjadi, diharapkan kita bisa melihat persoalan dalam perspektif obyektif, positif dan ke depan. Namun begitu, bukan berarti kita mengabaikan persoalan-persoalan penurunan kualitas yang sementara ini terjadi.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Manajemen da’wah yang baik, tentu saja harus mampu melakukan tiga hal sekaligus dalam menghadapi permasalah ini. Yaitu tindakan antisipatif agar masalah masalah tidak meluas atau terulang kembali. Lalu tindakan responsif, yaitu menanggapi secara cepat berbagai gejala permasalahan sehingga bisa teratasi dengan cepat dan tuntas. Lainnya adalah tindakan kuratif, yaitu menyelesaikan dan memperbaiki kasus-kasus permasalahan yang ada di kalangan kader.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Terkait dengan tindakan kuratif (‘ilaj), dalam da’wah ini tersedia tiga pendekatan. </font><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong><em>Pertama</em></strong></font><font size="2" face="Arial"> adalah ‘ilaj ukhawi. Yaitu menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan ukhuwah. Setiap kader memiliki hak untuk menerima taushiyah dan sekaligus berkewajiban melakukan taushiyah. Bahkan dalam budaya da’wah, ketika seseorang melihat kesalahan saudaranya secara langsung, ia akan segera menegurnya dengan cara yang baik, dan bukan mengadukannya kepada orang lain. Inilah hakikat taushiyah bil-haq, bis-shabr dan taushiyah bil-marhamah.</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Ketika teguran sudah diberikan, kita harus menunggu beberapa waktu untuk melihat apakah saudara kita itu mau memperbaiki kesalahannya. Manakala teguran kita tidak berhasil, baru kita bisa menceritakan dan meminta bantuan orang lain untuk memperbaikinya. Tentu saja orang itu adalah pihak yang memiliki otoritas, kemampuan atau kedekatan terhadap kader yang bermasalah. Menceritakan kasus atau aib saudara kita kepada orang lain yang tidak dalam kualifikasi ini, sudah termasuk perkara ghibah. </font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Hal lain yang penting, ketika kita menemukan seorang kader yang melakukan kesalahan atau memiliki aib, salah satu tugas kita adalah menutupi aib itu dari orang lain. Dan kita harus tetap memandang saudara kita itu dari sisi-sisi kebaikannya, agar kita tetap mampu bergaul dan</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">beramal jama’i. Dalam suasana seperti ini, kita akan terus berupaya mengarahkan dan mengingatkan saudara kita itu, agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Ini adalah bentuk lain taushiyah melalui bimbingan atau arahan amal.</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong><em>Kedua</em></strong></font><font size="2" face="Arial"> adalah ‘ilaj tarbawi. Yaitu mengatasi permasalahan yang dialami kader melalui taujihat tarbawiyah dalam forum-forum pembinaan. Fadzakkir, inna dzikro tanfa’ul mu’minin. Sangat mungkin, seseorang melakukan kesalahan akibat ketidakpahamannya (‘adamul-fahm) akan suatu persoalan. Dengan diberikan ilmu tentang hal itu, masalah yang ada akan bisa diselesaikan. Untuk itulah, seorang murabbi dan muwajjih harus peka dan mampu mengidentifikasi persoalan-persoalan yang berkembang di kalangan kader. Sehingga taujihat tarbawiyah yang diberikan secara rutin, bisa diarahkan secara lebih spesifik. Perhatikanlah, taujihat Rasulullah kepada para sahabat dalam forum-forum pembinaan, biasanya sangat spesifik dan sering berangkat dari kasus-kasus tertentu yang terjadi di lapangan amal.</font></p>
<p><font size="2" color="#0000ff" face="Arial"><strong><em>Ketiga</em></strong></font><font size="2" face="Arial"> adalah ‘ilaj tanzhimi. Harakah kita adalah munazhzhamah. Ada ijro’at tanzhimi (mekanisme dan aturan organisasi) yang mengikat kita. Ketika suatu kesalahan yang dilakukan kader tidak mampu diatasi dengan ‘ilaj ukhawi dan ‘ilaj tarbawi, maka dengan otoritasnya, da’wah bisa melakukan ‘ilaj tanzhimi. Jajaran qiyadah di berbagai jenjang struktur harus mampu menggunakan otoritasnya. Pada titik ini, seorang kader akan dihadapkan pada pilihan-pilihan komitmen da’wah-harakahnya. Karena keta’atan pada jama’ah dan qiyadah adalah salah satu kewajiban asasi dalam amal jama’i. &#8220;Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.&#8221; (QS.4:59).</font></p>
<p><font size="2" face="Arial">Ketika ‘ilaj tanzhimi dilakukan, maka di antara otoritas da’wah dan qiyadah adalah menetapkan uqubah (sanksi). Hakihat uqubah adalah sebagai bukti adanya kesalahan yang telah dilakukan, sebagai konsekuensi yang harus dibayar dari kesalahan itu dan sebagai jalan untuk mengingatkan serta mengembalikan orang yang bersalah kepada jalan kebenaran. Oleh karena itu, uqubah menjadi sangat penting agar kewibawaan da’wah dan kewibawaan Islam tetap terpelihara. Tentu saja, ini harus dilakukan oleh pihak yang benar-benar berwenang, dengan aturan yang jelas dan syura yang mendalam</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=17&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/24/perluasan-da%e2%80%99wah-berdampak-penurunan-kualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Model Dari Turki</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/18/sebuah-model-dari-turki/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/18/sebuah-model-dari-turki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 08:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/18/sebuah-model-dari-turki/</guid>
		<description><![CDATA[Benteng terakhir kaum sekuler jatuh. Maka seluruh jabatan kunci dikuasai partai Islam AKP. Boleh jadi kelak Turki merupakan salah satu model negara Islam Oleh: Amran Nasution Istana Kepresidenan Cankaya di Ankara, kini ditempati penghuni baru yang ’’aneh’’. Ia haram minum alkohol, lagi pula istrinya berjilbab. Padahal, 84 tahun lalu, dari istana inilah Jenderal Mustafa Kemal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=16&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Benteng terakhir kaum sekuler jatuh. Maka seluruh jabatan kunci dikuasai partai Islam AKP. Boleh jadi kelak Turki merupakan salah satu model negara Islam </p>
<p>Oleh: Amran Nasution</p>
<p>Istana Kepresidenan Cankaya di Ankara, kini ditempati penghuni baru yang ’’aneh’’. Ia haram minum alkohol, lagi pula istrinya berjilbab. Padahal, 84 tahun lalu, dari istana inilah Jenderal Mustafa Kemal Attaturk memimpin revolusi yang menumbangkan Kesultanan Usmani (The Ottoman Empire).<br />
Pada waktu itu, super power Islam ini memang lagi limbung, menyusul kekalahannya bersama Jerman, menghadapi Sekutu dalam Perang Dunia I. Jenderal Attaturk memanfaatkan kesempatan itu. Imperium yang sudah ratusan tahun malang-melintang di seantero jagat, dia rubuhkan.<br />
Sejak itu, 1923, Turki menjadi republik. Simbol Islam yang menempel di Kesultanan dia campakkan. Lalu semuanya mesti meniru Barat, termasuk dalam urusan minum alkohol. Kemal Attaturk yang dijuluki ’’Bapak Turki Modern’’ itu adalah seorang penikmat alkohol. Begitu pula para penggantinya.<br />
Tapi Selasa, 28 Agustus 2007, Parlemen Turki mengambil sumpah Abdullah Gul, 58 thn, menjadi Presiden Turki untuk masa jabatan 7 tahun. Tokoh partai Islam AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) itu menggantikan Presiden yang sekuler, Ahmet Necdet Sezer. Inilah untuk pertama kalinya seorang politisi Islam menjadi Presiden sejak Kesultanan Usmani ditumbangkan.<br />
Beberapa jam sebelumnya, Gul memenangkan voting di Parlemen, dengan mengumpulkan 339 suara. Dua lawannya, Tayfun Icli dari Demokratik Sol Partisi (DSP) dan Sabahattin Cakmakoglu dari Milliyetci Hareket Partisi (MHP), cuma dapat 83 suara. Parlemen Turki punya 550 kursi. Tapi partai oposisi utama, Cumhuriyet Halk Partisi (CHP), yang punya 112 kursi, memboikot perhelatan.<br />
Maka lengkaplah sudah dominasi partai Islam itu di dalam sistem politik Turki, setelah benteng terakhir kaum sekuler ini direbut. Perdana Menteri dipegang Recep Tayyip Erdogan, pendiri dan pemimpin puncak AKP. Ketua Parlemen, Bulen Arinc, juga dari AKP. Lalu hampir seluruh kursi walikota disapu kader AKP, yang selalu menang dalam berbagai Pilkada. Sekarang Presiden pun menclok di tangan.<br />
Artinya, setelah 84 tahun disingkirkan Attaturk dari percaturan politik, kini Islam telah kembali. ’’Sesungguhnya hari ini kami berganti lembaran, sebuah lembaran yang penting dalam sejarah politik negeri ini,’’ kata Soli Ozel, profesor hubungan internasional Bilgi University di Istambul (The New York Times, 29 Agustus 2007).<br /><span id="more-16"></span><br />
Pengeritik Sekularisme Yang Galak<br />
Di dalam sistem Turki, jabatan Presiden lebih seremonial belaka. Pekerjaan eksekutif ada di tangan Perdana Menteri. Tapi dalam kondisi politik yang berkembang sekarang, ia amat menentukan. Soalnya, Presiden membawahkan serta mengangkat dan memberhentikan pimpinan militer.<br />
Padahal militer selama ini menjadi penghadang gerakan partai Islam itu. Saat pelantikan Abdullah Gul, Kepala Staf Militer Jenderal Yasar Buyukanit absen. Sehari sebelum pemilihan dia malah mengecam pencalonan Gul, dengan menyatakan, ’’pusat setan sedang bekerja untuk menghapus sekularisme’’. Ternyata itu tak lagi dipedulikan orang, menandakan kelompok militer mulai kehilangan taring.<br />
Presiden juga bisa memveto pengangkatan jabatan birokratis, termasuk para hakim. Kemudian dia memiliki hak veto atas rancangan undang-undang.<br />
Itulah selama ini yang membuat stress Erdogan. Ada ratusan usulan jabatan birokratis dan tak sedikit RUU yang dia ajukan, dilemparkan Presiden Ahmet Necdet Sezer ke keranjang sampah. Alasannya, bertentangan dengan konstitusi.<br />
Padahal para pejabat yang diusulkannya dianggap lebih jujur dan profesional dibanding para pejabat sekarang – dari kelompok sekuler – yang terbukti selama ini korup dan nyaris membangkrutkan Turki.<br />
Pemakaian jilbab, misalnya, jelas harus segera diatur undang-undang sebab beberapa bulan lalu, Pengadilan HAM Eropa (European Court of Human Right) telah menjatuhkan vonis atas pengaduan Merve Kavakci. Pengadilan menyatakan kasus itu merupakan sebuah pelanggaran HAM.<br />
Begini ceritanya. Kavakci berhasil memenangkan pemilihan anggota Parlemen pada Pemilu 1999. Namun dia gagal dilantik setelah datang ke gedung Parlemen dengan jilbab. Kelompok politik sekuler dan militer menganggap jilbab adalah simbol Islam. Karena itu diharamkan masuk ke semua gedung pemerintah.<br />
Perempuan yang satu ini tak mau mengalah, ia melancarkan protes. Eh, tahunya kewarganegaraannya malah dicabut. Kavakci kemudian mengajar di George Washington University, sekalian menjadi warga negara Amerika Serikat.<br />
Tapi sejak itu dia menjadi pengeritik sekularisme Turki yang galak. Dia berkeliling dunia mengampanyekan jilbab sebagai simbol pemberdayaan kaum perempuan. Terakhir dia bawa kasus jilbabnya ke European Court of Human Right, dan menang. Keputusan itu tentu harus diadopsi undang-undang Turki karena negeri itu sedang melamar menjadi anggota Uni Eropa.<br />
Ketika Abdullah Gul dilantik menjadi Presiden, ia tak didampingi sang istri, Hayrunnisa Ozyurt yang berjilbab. ’’Ibu tak hadir untuk mengelakkan kontroversi,’’ ujar Mehmet Emre, putranya, seperti dikutip The Washington Post, 28 Agustus lalu.<br />
Kasus yang sama terjadi pada Nyonya Emine Erdogan. Istri Perdana Menteri Erdogan itu juga tak pernah melepaskan jilbab. Sejumlah pelajar, mahasiswi, atau anggota Parlemen, terpaksa pakai rambut palsu (wig) pengganti jilbab, agar bisa masuk sekolah, kampus, atau kantor. Ini semua terjadi di sebuah negeri berpenduduk 76 juta, dengan 99% di antaranya adalah pemeluk Islam.<br />
Setelah Gul jadi Presiden, agaknya kontroversi jilbab ini segera akan selesai. Begitu pula ratusan usulan untuk merombak birokrasi, atau sejumlah rancangan undang-undang yang selama ini diveto Presiden Sezer.<br />
Apa yang terjadi di Turki memang menyedihkan dan terkadang menggelikan. Seorang wartawan Barat, tertawa ketika mengelilingi pedesaan Turki, melihat para petani memakai topi petani Francis model tahun 1920-an, yang sudah lama tak lagi dipakai di negeri asalnya. Rupanya, dulu Attaturk mewajibkan para petaninya memakai topi itu agar mereka bisa semaju petani Perancis.<br />
Dalam pemilu 2002, untuk pertama kalinya AKP menang mutlak, mengantarkan 363 anggotanya ke Parlemen. Sebelum pelantikan, mereka ramai-ramai mencukur kumis dan jenggot (diliput media lagi), tak mau dituduh membawa simbol Islam ke gedung Parlemen.<br />
Tapi memang yang begini-beginilah yang dilakukan Jenderal Mustafa Kemal Attaturk dan sampai sekarang dipertahankan kaum politisi sekuler dan militer. Pokoknya, semua bau Islam harus dibersihkan karena kolot dan sumber kemandegan. Semua bau Barat harus dipeluk erat, karena sumber kemajuan dan moderenisasi. Pada waktu itu, pikiran Attaturk ini merambah ke mana-mana, termasuk ke India atau Indonesia. Bung Karno, misalnya, termasuk pengagum berat Attaturk.<br />
Kenyataannya Turki tak pernah maju. Coba, seluruh tulisan Arab diganti Latin. Kebesaran Kesultanan Usmani tak boleh dikenali. Akibatnya generasi muda Turki kehilangan akses pada bahan peninggalan sejarah Usmani. Mereka terputus dari akar budaya masa lalu yang agung.<br />
Panggilan azan diganti berbahasa Turki, musik klasik Barat mengiringi pengajian, kursi dimasukkan ke dalam masjid agar mirip gereja, pakaian tradisional dilarang dan diganti jas dan dasi. Fez, kopiah tradisional Turki dinyatakan terlarang. Ini semua memang kelihatan aneh. Maka banyak juga yang tak diikuti rakyat, seperti panggilan azan, musik klasik, dan kursi masuk masjid itu. Tapi satu hal yang pasti, semua pernak-pernik itu terbukti tak ada hubungannya dengan maju atau moderen.<br />
Erbakan Terlalu Bersemangat<br />
Lama kelamaan Islam yang sudah dicampakkan Attaturk, pelan-pelan kembali dipungut rakyatnya. Sebuah penelitian di tahun 1990 – 1991, tentang tingkat religiusitas penduduk di 41 negara di dunia, menempatkan Turki paling religius, setelah Nigeria, Brazil, dan Polandia (Samuel P.Huntington: Who Are We, America’s Great Debate,  The Free Press, 2005).<br />
Apalagi kaum sekuler dan tentara yang menguasai negeri itu, tak juga berhasil mendatangkan kemakmuran. Banyak orang Turki terpaksa berkelana ke Eropa – terutama Jerman – untuk bekerja sebagai buruh murah.<br />
Bayangkan, di tahun 2000 &#8211; 2001, inflasi mencapai 45%, pertumbuhan ekonomi mandeg. Krisis menerpa sektor keuangan dan perbankan. Lira Turki merosot tajam terhadap Dollar atau mata uang asing lainnya. Yang lebih parah, partai politik sekuler yang menguasai birokrasi – di-beking tentara – terlibat berbagai skandal korupsi. Itu mempercepat ambruknya perekonomian.<br />
Secara resmi militer tak campur urusan politik. Tapi dengan dalih menjaga konstitusi, mereka seenaknya bikin kudeta, membubarkan pemerintah atau partai. Itu terjadi berulangkali. Lalu dengan cara itu mereka terus-menerus berkuasa.<br />
Setelah puluhan tahun dijejali sekularisme rakyat mulai mencari alternatif. Maka pada pemilu 1994, partai Islam Refah (Refah Partisi) menang. Pemimpinnya, Necmettin Erbakan, menjadi Perdana Menteri. Dialah Perdana Menteri pertama dari kelompok Islam, setelah revolusi Attaturk. Pada waktu itu, Erdogan dan Abdullah Gul adalah kader Refah. Erdogan menjadi Walikota Istambul, dan Gul menjabat  Menteri Kabinet.<br />
Sayang Erbakan terlalu bersemangat. Gebrakan politiknya terlalu kasar. Dengan tuduhan ingin mengganti konstitusi sekuler pada 1997, militer menumbangkannya. Sekalian Partai Refah dibubarkan.<br />
Erdogan dan Gul terpaksa meninggalkan Erbakan. Mereka mendirikan partai baru AKP, Agustus 2001. Partai inilah setahun kemudian, akhir 2002 – disusul kemenangan Pemilu kemarin &#8212; menyapu mayoritas kursi Parlemen Turki.<br />
Padahal di musim kampanye, Erdogan mau pun Gul tak tampil meledak-ledak. Mereka hanya sibuk mengunjungi rakyat miskin di pinggiran kota atau di pedesaan. Ada acara sunatan massal, kawinan massal, pengobatan massal, atau bantuan bencana alam –mirip model kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS)&#8211; di sini.<br />
Dan ’’keajaiban’’ itu pun terjadi. Begitu dipegang Perdana Menteri Erdogan, ekonomi Turki yang morat-marit, segera pulih. Inflasi terkendali dan menurun tajam: sekarang di bawah 8%/tahun. Mata uang Lira menguat. Perekonomian tumbuh konsisten 7 sampai 8%/tahun. Maka kota-kota pun berubah: gedung jangkung bertumbuhan. Dan semua itu terjadi dalam tempo tak sampai lima tahun.<br />
Ada lagi yang menarik. Selama ini, perekonomian dipegang kaum sekuler. Mereka mapan karena puluhan tahun berkuasa dan kebanyakan tinggal di kota. Kini bermunculan para konglomerat Islam yang umumnya adalah kaum urban dari pedesaan. Mayoritas pendukung AKP memang orang desa.<br />
Yang paling fenomenal adalah Kombassan Holding milik Hasjim Bayram, konglomerat top di Turki. Pada mulanya, Hasyim cuma guru di sebuah sekolah Islam di kotanya, Konya. Ia memulai bisnis dengan membuka percetakan kecil pada 1989. Kini, Kombassan menggurita mulai dari bisnis otomotif, elektronik, konstruksi, tekstil, petroleum, pusat perbelanjaan, dan makanan. Perusahaannya pun melebar ke mancanegara. Walau tak sebesar Kombassan, perusahaan seperti itu bertumbuhan.<br />
Itu yang membuat kaum sekuler merasa kian terdesak. Apalagi banyak konglomeratnya selama ini terlalu bergantung pada kekuasaan, dan langsung rontok setelah AKP berkuasa. Tak aneh kalau Deniz Baykal, pemimpin partai oposisi CHP, menuduh pemerintah Erdogan mengembangkan ekonomi berbasis Islam. Katanya, kebangkitan ekonomi disebabkan besarnya suntikan modal dari Arab Saudi.<br />
Setelah terjadi serangan teror 11 September 2001 di Amerika, banyak pemilik modal Arab Saudi menarik uangnya dari negeri itu, lalu dipindah ke Francis atau beberapa negara Eropa, Timur Tengah, dan Turki. Itulah yang mereka sebut green money (uang hijau). Kebetulan Abdullah Gul akrab dengan para penguasa Arab Saudi, karena pernah bekerja di Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah.<br />
Negara Teroris<br />
Dulu Erbakan tak peduli Uni Eropa, Erdogan sebaliknya. Gul sebagai Menteri Luar Negeri sangat serius melobi agar Turki bisa menjadi anggota Uni Eropa. Memang tampaknya tak mungkin Uni Eropa menerima Turki yang Islam.<br />
Tapi bagi Erdogan dan Gul, langkah itu sangat menguntungkan untuk pertarungan politik internal. Berbagai survei menunjukkan mayoritas rakyat ingin negerinya bergabung dengan Uni Eropa. Dengan langkah ini, dukungan rakyat terhadap mereka pun kian menguat.<br />
Lagi pula persyaratan terpenting untuk menjadi anggota Uni Eropa adalah demokratisasi dan penegakan HAM. Kedua isu itu kian memperkuat posisi AKP dalam menghadapi militer. Ketika April lalu, situasi politik meninggi,  menyusul pencalonan Abdullah Gul sebagai Presiden dari AKP, Uni Eropa segera mengingatkan militer Turki agar jangan melakukan kudeta. Turki adalah anggota NATO sehingga militer negara itu punya hubungan ke Uni Eropa.<br />
Langkah ke Uni Eropa, menerima HAM, menegakkan demokrasi, mentrapkan pasar bebas, semua ini membuat kebangkitan politik Islam di Turki memberi nuansa berbeda. The Washington Post, 27 Agustus 2007, menulis, ’’Terpilihnya Gul sebagai kemenangan demokrasi, sejauh dilihat partai politik Islam bisa moderat dan liberal.’’<br />
Namun harus dicatat, sekali pun dia moderat dan liberal –dalam kacamata Barat &#8212; AKP tetap konsisten memperjuangkan aspirasi pengikutnya. Apakah itu soal jilbab, minuman keras, sampai hubungan dengan Israel.<br />
Michael Rubin dari American Enterprise Institute, pada 2005, menulis di Middle East Quarterly, menguraikan betapa konsistennya AKP dalam soal itu. Erdogan mengajukan proposal agar pelajar sekolah Islam dipermudah masuk ke perguruan tinggi negeri yang sekuler.  Erdogan juga mengusulkan peraturan yang menyamakan sekolah sekuler dengan sekolah Islam, kenaikan pajak alkohol, ancaman hukuman untuk perzinahan, jilbab, dan sebagainya.<br />
Yang membedakannya dengan Erbakan dulu, menurut Rubin, Erdogan dan kawan-kawan melakukannya dengan sabar, hati-hati, tak mau grasa-grusu, yang bisa mengejutkan kaum sekuler mau pun militer. Tapi dalam hal tertentu, mereka ternyata bisa juga galak.<br />
Dalam politik luar negeri, misalnya. Dari dulu Turki punya hubungan baik dengan Israel. Tapi sejak Erdogan menjadi Perdana Menteri, sudah berkali-kali secara terbuka dia menuduh Israel sebagai negara teroris.<br />
Tuduhan seberani itu bahkan tak pernah terdengar dari para pemimpin negara berpenduduk Muslim lainnya –Presiden SBY, misalnya– sekali pun apa yang dilakukan tentara Israel kepada penduduk Palestina, jelas tindakan terorisme.<br />
Pada 13 Juli 2004, Erdogan menolak kedatangan Deputi Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, ke Ankara. Tapi di hari yang sama ia menerima kedatangan Perdana Menteri Syria, Muhammad Naji al-Utri. Bukan cuma itu. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad  – musuh besar Presiden Bush itu – disambut hangat di Ankara. Begitu pula Khalid Messal, pimpinan Hamas.<br />
Hubungan dengan Presiden Bush dingin, terutama setelah Erdogan berani menolak lapangan terbangnya digunakan pasukan Amerika sebagai pangkalan dalam penyerbuan ke Iraq, 2003. Turki berkali-kali memperingatkan Amerika, karena pesawat terbangnya yang beroperasi di Iraq, melintasi perbatasan Turki. Belakangan Turki menyampaikan protes setelah terbukti senjata Amerika untuk tentara Iraq, banyak merembes dan dipakai gerilyawan Kurdi di Turki.<br />
Tak aneh kalau menghadapi kontroversi pencalonan Gul sebagai Presiden, Deplu Amerika mengeluarkan pernyataan agar soal itu dikompromikan. Artinya, Amerika tak begitu setuju dengan Gul. Wajar kalau setelah Gul terpilih, sambutan dari negeri Uncle Sam itu dingin-dingin saja.<br />
Semua yang terjadi di Turki menarik diamati. Mungkin kelak kita akan melihat sebuah model negara Islam yang lain, dari yang sudah dikenal selama ini: Iran, Arab Saudi, atau Pakistan. Wallahu a’lam<br />
* Penulis adalah mantan Redaktur TEMPO dan GATRA. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=16&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/10/18/sebuah-model-dari-turki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penghimpun Hadist</title>
		<link>http://abuazzam.wordpress.com/2007/09/29/hello-world/</link>
		<comments>http://abuazzam.wordpress.com/2007/09/29/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 03:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuazzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Hidup Enam Tokoh Penghimpun Hadith Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh kerananya siapa yang ingin mendalaminya, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=1&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><font size="2"><font face="Verdana">Sejarah Hidup Enam Tokoh Penghimpun Hadith</font></font></strong><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh kerananya siapa yang ingin mendalaminya, maka tidak akan ada habis-habisnya keajaibannya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Untuk mengetahui As-Sunnah atau hadith-hadith Nabi, maka salah satu dari beberapa bahagian penting yang tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah mengetahui profil atau sejarah orang-orang yang mengumpulkan hadith, yang dengan jasa-jasa mereka kita yang hidup pada zaman sekarang ini dapat dengan mudah memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematis serta dapat melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah seperti yang dicontohkannya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Untuk itu pada beberapa edisi kali ini, kami sajikan secara berturut-turut Profile Sejarah Hidup Enam Tokoh Penghimpun Hadith yang paling terkenal serta Sekilas Penjelasan Tentang Kitab Hadith-nya yang masyhur. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abad ketiga Hijriah merupakan kurun waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun Hadith Nabi di dunia Islam. waktu itulah hidup enam penghimpun ternama Hadith Shahih yaitu: </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Abu Daud </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Tirmidzi </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Nasa&#8217;i </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Ibn Majah</font></font></span><span id="more-1"></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><u><font face="Verdana" size="2">Imam Bukhari</font></u></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadith itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu&#8217;minin fil-Hadith (pemimpin orang mukmin dalam hadith), suatu gelar ahli hadith tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di </span><span>Bukhara</span><span> pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang </span><span>Persia</span><span> bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja&#8217;fi, gubernur </span><span>Bukhara</span><span>. </span><span>Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan &#8220;al-Mughirah al-Jafi.&#8221; </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadith. Ia belajar hadith dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara&#8217; (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: &#8220;Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.&#8221; Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara&#8217;. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum&#8217;at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo&#8217;a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do&#8217;amu yang tiada henti-hentinya.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadith. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadith. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadith, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra&#8217;yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma kerana tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, kerana merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua kerana Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Pengembaraannya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. </span><span>Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebahagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami&#8217;as-Shahih dan pendahuluannya. </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahawa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahawa ia pernah berkata: &#8220;Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadith.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya kerana menetap di negeri Khurasan. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadith-hadith dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadith dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadith sebanyak itu lengkap dengan sumbernya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Kemasyhuran Imam Bukhari</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Kemasyhuran Imam Bukhari segera mencapai bahagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu di alu-alukan. Masyarakat hairan dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. </span><span>Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya. </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Shahih Muslim menceritakan: &#8220;Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.&#8221; Mereka menyambut kedatangannya dari luar </span><span>kota</span><span> sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: &#8220;Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebahagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang </span><span>Bukhara</span><span>. </span><span>Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadith secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: &#8220;Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.&#8221; </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari Difitnah</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahawa &#8220;Al-Qur&#8217;an adalah makhluk.&#8221; Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: &#8220;Barang siapa berpendapat lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ahh. Ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya, curigailah dia.&#8221; Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: &#8220;Bagaimana pendapat Anda tentang lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an, makhluk ataukah bukan?&#8221; Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: &#8220;Al-Qur&#8217;an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.&#8221; Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Bukhari perbah berkata: &#8220;Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur&#8217;an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.&#8221; Demikian juga ia pernah berkata: &#8220;Barang siapa menuduhku berpendapat bahawa lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an adalah makhluk, ia adalah pendusta.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: &#8220;Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini.&#8221; Oleh kerana Imam Bukhari berpendapat bahawa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majlis pengajian dan pengajaran hadith. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Tetapi kemudian badai fitnah datang lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa </span><span>Bukhara</span><span> sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa </span><span>Bukhara</span><span>, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami&#8217; al-Shahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahawa &#8220;Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majlis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahawa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.&#8221; Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, </span><span>Bukhara</span><span>. </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari, kemudian mendo&#8217;akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Kewafatannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Shahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo&#8217;a sebelum menulis buku itu. Sebahagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadith muridnya ini: &#8220;Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Suatu ketika penduduk </span><span>Samarkand</span><span> mengirim </span><span>surat</span><span> kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum </span><span>Samarkand</span><span>, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahawa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Guru-gurunya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahawa dia menyatakan: &#8220;Aku menulis hadith yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadith dan berpendirian bahawa iman adalah ucapan dan perbuatan.&#8221; Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma&#8217;in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang hadithnya diriwayatkan dalam kitab Shahih-nya sebanyak 289 orang guru. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font face="Verdana" size="2">Keutamaan dan Keistimewaan Imam Bukhari</font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kerana kemasyhurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung hadithnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadith dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahawa kitab Shahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa&#8217;i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma&#8217;qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyhur sebagai perawi kitab Shahih Bukhari. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam bidang kekuatan hafalan, ketazaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadith, juga dalam bidang ilat-ilat hadith, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadith lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahawa Imam Bukhari berkata: &#8220;Saya hafal hadith di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadith shahih, dan 200.000 hadith yang tidak shahih.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadith di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadith, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadith ini diberi sanad hadith lain dan sanad hadith lain dinbuat untuk matan hadith yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadith yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadith kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadith, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: &#8220;Saya tidak tahu hadith yang Anda sebutkan ini.&#8221; Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahawa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: &#8220;Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: &#8220;Hadith pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadith kedua isnadnya yang benar adalah beginii…&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadith. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadith-hadith yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai &#8220;Imam&#8221; dalam bidang hadith. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian hadirin memberikan komentar terhadap &#8220;uji cuba kemampuan&#8221; yang menegangkan ini, ia berkata: &#8220;Yang mengagumkan, bukanlah kerana Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadith yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali.&#8221;Jadi banyak pemirsa yang hairan dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadith secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari pernah berkata: &#8220;Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadith pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi&#8217;in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebahagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadith sahabat dan tabi&#8217;in, yakni hadith-hadith mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa&#8217;id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : &#8220;Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadith dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam al-A&#8217;immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: &#8220;Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadith, yang melebihi Muhammad bin Isma&#8217;il.&#8221; Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: &#8220;Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadith melebihi Muhammad bin Isma&#8217;il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Iraq yang melebihi kealimannya.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Al-Hakim menceritakan, dengan sanad lengkap. Bahawa Muslim (pengarang kitab Shahih), datang kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: &#8220;Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadith dan dokter ahli penyakit (ilat) hadith.&#8221; </span><span>Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: &#8220;Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.&#8221; </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: &#8220;Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: &#8220;Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.&#8221; Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: &#8220;Hadithnya diingkari.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadith yang diriwayatkan seseorang hanya kerana orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahawa ia berkata: &#8220;Saya meninggalkan 10.000 hadith yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Selain dikenal sebagai ahli hadith, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada darjat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi&#8217;i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan &#8216;Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadith yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadith, bukan sebagai ahli fiqh. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahawa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karya Imam Bukhari</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut : </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Jami&#8217; as-Shahih (Shahih Bukhari). </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Adab al-Mufrad. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">At-Tarikh as-Sagir. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">At-Tarikh al-Awsat. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">At-Tarikh al-Kabir. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">At-Tafsir al-Kabir. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Musnad al-Kabir. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab al-&#8217;Ilal. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Raf&#8217;ul-Yadain fis-Salah. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Birril-Walidain. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab al-Asyribah. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Qira&#8217;ah Khalf al-Imam. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab ad-Du&#8217;afa. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Asami as-Sahabah. </font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab al-Kuna. </font></font></span><span></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI&#8217; AS-SHAHIH (Shahih Bukhari) </font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Diceritakan, Imam Bukhari berkata: &#8220;Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebahagian ahli ta&#8217;bir, ia menjelaskan bahawa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadith Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami&#8217; as-Shahih.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam menghimpun hadith-hadith shahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadith-hadithnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti keshahihan hadith-hadith yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadith-hadith yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadith-hadith tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: &#8220;Aku susun kitab Al-Jami&#8217; ini yang dipilih dari 600.000 hadith selama 16 tahun.&#8221; Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahawa ia mendengar Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari berkata: &#8220;Aku susun kitab Al-Jami&#8217; as-Shahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadith pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahawa hadith itu benar-benar shahih.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Maksud pernyataan itu ialah bahawa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadith-hadith dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Kerananya tidak menghairankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai &#8220;Buku Hadith Nabi yang Paling Shahih.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: &#8220;Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami&#8217; as-Shahih ini kecuali hadith-hadith yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadith shahih kerana khawatir membosankan.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahawa Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadith yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadith mutabi dan hadith syahid, dan hadith-hadith yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi&#8217;in. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Jumlah Hadith Kitab Al-Jami&#8217;as-Shahih (Shahih Bukhari) </font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-&#8217;Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahawa jumlah hadith Shahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadith, termasuk hadith-hadith yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadith tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-&#8221;Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari, menyebutkan, bahawa semua hadith shahih mawsil yang termuat dalam Shahih Bukhari tanpa hadith yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadith. Sedangkan matan hadith yang mu&#8217;alaq namun marfu&#8217;, yakni hadith shahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadith. Semua hadith Shahih Bukhari termasuk hadith yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu&#8217;alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi&#8217; sebanyak 344 buah hadith. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadith. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi&#8217;in dan ulama-ulama sesudahnya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yg Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah</font></font></span></em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><u><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim</font></font></u></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Penghimpun dan penyusun hadith terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. </span><span>Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya &#8216;Ulama&#8217;ul-Amsar.</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Kehidupan dan Lawatannya untuk Mencari Ilmu</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia belajar hadith sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadith kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu &#8216;Ansan. Di Irak ia belajar hadith kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa&#8217;id bin Mansur dan Abu Mas&#8217;Abuzar; di Mesir berguru kepada &#8216;Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadith yang lain.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadith, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadith-hadith yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadith dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadith-hadith yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Wafatnya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Guru-gurunya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa&#8217;id al-Ayli, Qutaibah bin Sa&#8217;id dan lain sebagainya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Keahlian dalam Hadith </font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadith shahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadith, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadith maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, &#8220;Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya.&#8221; Pernyataan ini tidak bererti bahawa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahawa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadith hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli-ahli hadith terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadith itu cukup banyak jumlahnya.</font></font></span><font face="Verdana" size="2"> </font></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karya Imam Muslim </font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya :</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Jami&#8217; as-Shahih (Shahih Muslim).</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadith).</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabul-Asma&#8217; wal-Kuna.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab al-&#8217;Ilal.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabul-Aqran.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabu Su&#8217;alatihi Ahmad bin Hambal.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabul-Intifa&#8217; bi Uhubis-Siba&#8217;.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabul-Muhadramin.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Auladis-Sahabah.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Awhamil-Muhadditsin.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Shahih Muslim</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami&#8217; as-Shahih, terkenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling shahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Shahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadith-hadith yang diriwayatkan, membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Shahihnya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Bukti konkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahawa ia pernah berkata: &#8220;Aku susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadith.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : &#8220;Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadith.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahawa jumlah hadith Shahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadith. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahawa perhitungan pertama memasukkan hadith-hadith yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadith-hadith yang tidak disebutkan berulang.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim berkata di dalam Shahihnya: &#8220;Tidak setiap hadith yang shahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Shahihnya. Aku hanya mencantumkan hadith-hadith yang telah disepakati oleh para ulama hadith.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: &#8220;Apabila penduduk bumi ini menulis hadith selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadith yang diriwayatkan dalam Shahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : &#8220;Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadith dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadith daripadanya melainkan dengan alas an pula.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Muslim di dalam penulisan Shahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebahagian naskah Shahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.</font></font></span></em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><span><u><font size="2"><font face="Verdana">Imam Abu Dawud</font></font></u></span></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah Imam Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli hadith pada zamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya semerbak mewangi hingga kini. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman bin al-Asy&#8217;as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin &#8216;Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang imam ahli hadith yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadith setelah dua imam hadith Bukhari dan Muslim serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Perkembangan dan Perlawatannya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sejak kecilnya Abu Dawud sudah mencintai ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka untuk dapat mereguk dan menimba ilmunya. Belum lagi mencapai usia dewasa, ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia belajar hadith dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri-negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan luas tentang hadith, kemudian hadith-hadith yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya dituangkan dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadith dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadith, Ahmad bin Hanbal.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dengan bangga Imam Ahmad memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik. Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki supaya Basrah menjadi &#8220;Ka&#8217;bah&#8221; bagi para ilmuwan dan peminat hadith.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Guru-gurunya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Para ulama yang menjadi guru Imam Abu Dawud banyak jumlahnya. Di antaranya guru-guru yang paling terkemuka ialah Ahmad bin Hanbal, al-Qa&#8217;nabi, Abu &#8216;Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja&#8217;, Abu&#8217;l Walid at-Tayalisi dan lain-lain. Sebahagian gurunya ada pula yang menjadi guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abi Syaibah dan Qutaibah bin Sa&#8217;id.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Murid-muridnya (Para Ulama yang Mewarisi Hadithnya)</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ulama-ulama yang mewarisi hadithnya dan mengambil ilmunya, antara lain Abu &#8216;Isa at-Tirmidzi, Abu Abdur Rahman an-Nasa&#8217;i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Sa&#8217;id al-A&#8217;rabi, Abu Ali al-Lu&#8217;lu&#8217;i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa&#8217;id al-Jaldawi dan lain-lain.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Cukuplah sebagai bukti pentingnya Abu Dawud, bahawa salah seorang gurunya, Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan dan menulis sebuah hadith yang diterima dari padanya. Hadith tersebut ialah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Hammad bin Salamah dari Abu Ma&#8217;syar ad-Darami, dari ayahnya, sebagai berikut: &#8220;Rasulullah SAW. ditanya tentang &#8216;atirah, maka ia menilainya baik.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Akhlak dan Sifat-sifatnya yang Terpuji</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud adalah salah seorang ulama yang mengamalkan ilmunya dan mencapai darjat tinggi dalam ibadah, kesucian diri, wara&#8217; dan kesalehannya. Ia adalah seorang sosok manusia utama yang patut diteladani perilaku, ketenangan jiwa dan keperibadiannya. Sifat-sifat Abu Dawud ini telah diungkapkan oleh sebahagian ulama yang menyatakan:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">“Abu Dawud menyerupai Ahmad bin Hanbal dalam perilakunya, ketenangan jiwa dan kebagusan pandangannya serta keperibadiannya. Ahmad dalam sifat-sifat ini menyerupai Waki&#8217;, Waki menyerupai Sufyan as-Sauri, Sufyan menyerupai Mansur, Mansur menyerupai Ibrahim an-Nakha&#8217;i, Ibrahim menyerupai &#8216;Alqamah dan ia menyerupai Ibn Mas&#8217;ud. Sedangkan Ibn Mas&#8217;ud sendiri menyerupai Nabi SAW dalam sifat-sifat tersebut.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sifat dan keperibadian yang mulia seperti ini menunjukkan atas kesempurnaan keberagamaan, tingkah laku dan akhlak.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Abu Dawud mempunyai pandangan dan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. </span><span>Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab: </span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>&#8220;Lengan baju yang lebar ini digunakan untuk membawa kitab-kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan. Jadi, kalau dibuat lebar, hanyalah berlebih-lebihan.</span><span></span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Pujian Para Ulama Kepadanya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud adalah juga merupakan &#8220;bendera Islam&#8221; dan seorang hafiz yang sempurna, ahli fiqh dan berpengetahuan luas terhadap hadith dan ilat-ilatnya. Ia memperoleh penghargaan dan pujian dari para ulama, terutama dari gurunya sendiri, Ahmad bin Hanbal. Al-Hafiz Musa bin Harun berkata mengenai Abu Dawud: </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Abu Dawud diciptakan di dunia hanya untuk hadith, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat orang yang lebih utama melebihi dia.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sahal bin Abdullah At-Tistari, seorang yang alim mengunjungi Abu Dawud. Lalu dikatakan kepadanya: &#8220;Ini adalah Sahal, datang berkunjung kepada tuan.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud pun menyambutnya dengan hormat dan mempersilahkan duduk. Kemudian Sahal berkata: &#8220;Wahai Abu Dawud, saya ada keperluan keadamu.&#8221; Ia bertanya: &#8220;Keperluan apa?&#8221; &#8220;Ya, akan saya utarakan nanti, asalkan engkau berjanji akan memenuhinya sedapat mungkin,&#8221; jawab Sahal. &#8220;Ya, aku penuhi maksudmu selama aku mampu,&#8221; tandan Abu Dawud. Lalu Sahal berkata: &#8220;Jujurkanlah lidahmu yang engkau pergunakan untuk meriwayatkan hadith dari Rasulullah SAW. sehingga aku dapat menciumnya.&#8221; Abu Dawud pun lalu menjulurkan lidahnya yang kemudian dicium oleh Sahal.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ketika Abu Dawud menyusun kitab Sunan, Ibrahim al-Harbi, seorang ulama ahli hadith berkata: &#8220;Hadith telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud.&#8221; Ungkapan ini adalah kata-kata simbolik dan perumpamaan yang menunjukkan atas keutamaan dan keunggulan seseorang di bidang penyusunan hadith. Ia telah mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang masih rumit dan pelik.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Bakar al-Khallal, ahli hadith dan fiqh terkemuka yang bermadzhab Hanbali, menggambarkan Abu Dawud sebagai berikut; Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy&#8217;as, imam terkemuka pada zamannya adalah seorang tokoh yang telah menggali beberapa bidang ilmu dan mengetahui tempat-tempatnya, dan tiada seorang pun pada masanya yang dapat mendahului atau menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah senantiasa menyinggung-nyingung Abu Dawud kerana ketinggian darjatnya, dan selalu menyebut-nyebutnya dengan pujian yang tidak pernah mereka berikan kepada siapa pun pada masanya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Madzhab Fiqh Abu Dawud</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Syaikh Abu Ishaq asy-Syairazi dalam asy-Syairazi dalam Tabaqatul-Fuqaha-nya menggolongkan Abu Dawud ke dalam kelompok murid-murid Imam Ahmad. Demikian juga Qadi Abu&#8217;l-Husain Muhammad bin al-Qadi Abu Ya&#8217;la (wafat 526 H) dalam Tabaqatul-Hanabilah-nya. Penilaian ini nampaknya disebabkan oleh Imam Ahmad merupakan gurunya yang istimewa. Menurut satu pendapat, Abu Dawud adalah bermadzhab Syafi&#8217;i.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Menurut pendapat yang lain, ia adalah seorang mujtahid sebagaimana dapat dilihat pada gaya susunan dan sistematika Sunan-nya. Terlebih lagi bahawa kemampuan berijtihad merupakan salah satu sifat khas para imam hadith pada masa-masa awal.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Memandang Tinggi Kedudukan Ilmu dan Ulama</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sikap Abu Dawud yang memandang tinggi terhadap kedudukan ilmu dan ulama ini dapat dilihat pada kisah berikut sebagaimana dituturkan, dengan sanad lengkap, oleh Imam al-Khattabi, dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Ia berkata: </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Aku bersama Abu Dawud tinggi di Baghdad. Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu pintu aku buka dan seorang pelayan melaporkan bahawa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon ijin untuk masuk. Kemudian aku melapor kepada Abu Dawud tentang tamu ini, dan ia pun mengijinkan. Sang Amir pun masuk, lalu duduk. Tak lama kemudian Abu Dawud menemuinya seraya berkata: &#8220;Gerangan apakah yang membawamu datang ke sini pada saat seperti ini?&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Tiga kepentingan,&#8221; jawab Amir. &#8220;Kepentingan apa?&#8221; tanyanya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Amir menjelaskan, &#8220;Hendaknya tuan berpindah ke Basrah dan menetap di sana, supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan; dengan demikian Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahawa Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedy Zenji.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud berkata: &#8220;Itu yang pertama, sebutkan yang kedua!&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku,&#8221; kata Amir.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Ya, ketiga?&#8221; Tanya Abu Dawud kembali.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Amir menerangkan: &#8220;Hendaknya tuan mengadakan majlis tersendiri untuk mengajarkan hadith kepada putra-putra khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud menjawab: &#8220;Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu baik pejabat terhormat maupun rakyat melarat, dalam bidang ilmu sama.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ibn Jabir menjelaskan: &#8220;Maka sejak itu putra-putra khalifah hadir dan duduk bersama di majlis taklim; hanya saja di antara mereka dengan orang umum di pasang tirai, dengan demikian mereka dapat belajar bersama-sama.&#8221;</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Maka hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yang harus datang kepada para ulama. Dan kesamaan darjat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Tanggal Wafatnya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah mengalami kehidupan penuh berkat yang diisi dengan aktivitas ilmia, menghimpun dan menyebarluaskan hadith, Abu Dawud meninggal dunia di Basrah yang dijadikannya sebagai tempat tinggal atas permintaan Amir sebagaimana telah diceritakan. Ia wafat pada tanggal 16 Syawwal 275 H/889M. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karyanya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Abu Dawud banyak memiliki karya, antara lain:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab AS-Sunnan (Sunan Abu Dawud).</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Al-Marasil.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Al-Qadar.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">An-Nasikh wal-Mansukh.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Fada&#8217;il al-A&#8217;mal.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Az-Zuhd.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dala&#8217;il an-Nubuwah.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ibtida&#8217; al-Wahyu.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ahbar al-Khawarij.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di antara karya-karya tersebut yang paling bernilai tinggi dan masih tetap beredar adalah kitab Amerika Serikat-Sunnan, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Abi Dawud.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Sunan Karya Abu Dawud </font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><span><font size="2"><font face="Verdana">Metode Abu Dawud dalam Penyusunan Sunan-nya</font></font></span></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karya di bidang hadith, kitab-kitab Jami&#8217; Musnad dan sebagainya disamping berisi hadith-hadith hukum, juga memuat hadith-hadith yang berkenaan dengan amal-amal yang terpuji (fada&#8217;il a&#8217;mal) kisah-kisah, nasehat-nasehat (mawa&#8217;iz), adab dan tafsir. Cara demikian tetap berlangsung sampai datang Abu Dawud. Maka Abu Dawud menyusun kitabnya, khusus hanya memuat hadith-hadith hukum dan sunnah-sunnah yang menyangkut hukum. Ketika selesai menyusun kitabnya itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal, dan Ibn Hanbal memujinya sebagai kitab yang indah dan baik.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud dalam sunannya tidak hanya mencantumkan hadith-hadith shahih semata sebagaimana yang telah dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia memasukkan pula kedalamnya hadith shahih, hadith hasan, hadith dha&#8217;if yang tidak terlalu lemah dan hadith yang tidak disepakati oleh para imam untuk ditinggalkannya. Hadith-hadith yang sangat lemah, ia jelaskan kelemahannya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Cara yang ditempuh dalam kitabnya itu dapat diketahui dari suratnya yang ia kirimkan kepada penduduk Makkah sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka mengenai kitab Sunannya. Abu Dawud menulis sbb:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>&#8220;Aku mendengar dan menulis hadith Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. </span><span>Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadith yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut aku himpun hadith-hadith shahih, semi shahih dan yang mendekati shahih. Dalam kitab itu aku tidak mencantumkan sebuah hadith pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Segala hadith yang mengandung kelemahan yang sangat ku jelaskan, sebagai hadith macam ini ada hadith yang tidak shahih sanadnya. Adapun hadith yang tidak kami beri penjelasan sedikit pun, maka hadith tersebut bernilai salih (bias dipakai alasan, dalil), dan sebahagian dari hadith yang shahih ini ada yang lebih shahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab, sesudah Qur&#8217;an, yang harus dipelajari selain daripada kitab ini. Empat buah hadith saja dari kitab ini sudah cukup menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang. Hadith tersebut adalah, yang ertinya:</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana">Pertama: <span>&#8220;Segala amal itu hanyalah menurut niatnya, dan tiap-tiap or memperoleh apa yang ia niatkan. Kerana itu maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pula. Dan barang siapa hijrahnya kerana untuk mendapatkan dunia atau kerana perempuan yang ingin dikawininya, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia hijrah kepadanya itu.&#8221;</span><strong><span></span></strong></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana">Kedua: <span>&#8220;Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.&#8221;</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana">Ketiga:<span> <span>&#8220;Tidaklah seseorang beriman menjadi mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya.&#8221;</span></span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana">Keempat:<span> <span>&#8220;Yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (atau samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menghindari syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya; dan barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, maka ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram, ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah, sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah, di dalam rumah ini terdapat sepotong daging, jika ia baik, maka baik pulalah semua tubuh dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati.&#8221;</span></span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Demikianlah penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Perkataan Abu Dawud itu dapat dijelaskan sebagai berikut:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith pertama adalah ajaran tentang niat dan keikhlasan yang merupakan asas utama bagi semua amal perbuatan diniah dan duniawiah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith kedua merupakan tuntunan dan dorongan bagi ummat Islam agar selalu melakukan setiap yang bermanfaat bagi agama dan dunia.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith ketiga, mengatur tentang hak-hak keluarga dan tetangga, berlaku baik dalam pergaulan dengan orang lain, meninggalkan sifat-sifat egoistis, dan membuang sifat iri, dengki dan benci, dari hati masing-masing.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith keempat merupakan dasar utama bagi pengetahuan tentang halal haram, serta cara memperoleh atau mencapai sifat wara&#8217;, yaitu dengan cara menjauhi hal-hal musykil yang samar dan masih dipertentangkan status hukumnya oleh para ulama, kerana untuk menganggap enteng melakukan haram.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dengan hadith ini nyatalah bahawa keempat hadith di atas, secara umum, telah cukup untuk membawa dan menciptakan kebahagiaan.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Komentar Para Ulama Mengenai Kedudukan Kitab Sunan Abu Dawud</font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Tidak sedikit ulama yang memuji kitab Sunan ini. Hujatul Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata: &#8220;Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadith-hadith ahkam.&#8221; Demikian juga dua imam besar, An-Nawawi dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah memberikan pujian terhadap kitab Sunan ini bahkan beliau menjadikan kitab ini sebagai pegangan utama di dalam pengambilan hukum.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Hadith-hadith Sunan Abu Dawud yang Dikritik</font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Al-Hafiz Ibnul Jauzi telah mengkritik beberapa hadith yang dicantumkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan memandangnya sebagai hadith-hadith maudhu’ (palsu). Jumlah hadith tersebut sebanyak 9 buah hadith. Walaupun demikian, disamping Ibnul Jauzi itu dikenal sebagai ulama yang terlalu mudah memvonis &#8220;palsu&#8221;, namun kritik-kritik telah ditanggapi dan sekaligus dibantah oleh sebahagian ahli hadith, seperti Jalaluddin as-Suyuti. Dan andaikata kita menerima kritik yang dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, maka sebenarnya hadith-hadith yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya, dan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap ribuan hadith yang terkandung di dalam kitab Sunan tersebut. Kerana itu kami melihat bahawa hadith-hadith yang dikritik tersebut tidak mengurangi sedikit pun juga nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahanya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Jumlah Hadith Sunan Abu Dawud</font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Di atas telah disebutkan bahawa isi Sunan Abu Dawud itu memuat hadith sebanyak 4.800 buah hadith. </span><span>Namun sebahagian ulama ada yang menghitungnya sebanyak 5.274 buah hadith. Perbedaan jumlah ini disebabkan bahawa sebahagian orang yang menghitungnya memandang sebuah hadith yang diulang-ulang sebagai satu hadith, namun yang lain menganggapnya sebagai dua hadith atau lebih. Dua jalan periwayatan hadith atau lebih ini telah dikenal di kalangan ahli hadith.</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Dawud membagi kitab Sunannya menjadi beberapa kitab, dan tiap-tiap kitab dibagi pula ke dalam beberapa bab. Jumlah kitab sebanyak 35 buah, di antaranya ada 3 kitab yang tidak dibagi ke dalam bab-bab. Sedangkan jumlah bab sebanyak 1,871 buah bab. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.</font></font></span></em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><span><u><font size="2"><font face="Verdana">Imam Tirmidzi</font></font></u></span></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Dawud, kini giliran Imam Tirmidzi, juga merupakan tokoh ahli hadith dan penghimpun hadith yang terkenal. Karyanya yang masyhur yaitu Kitab Al-Jami’ (Jami’ At-Tirmidzi). Ia juga tergolonga salah satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadith) dan ensiklopedia hadith terkenal.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam al-Hafiz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak Amerika Serikat-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadith kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyhur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Perkembangan dan Lawatannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kakek Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkebangsaan Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana. Di kota inilah cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu ‘Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadith. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Iraq, Khurasan dan lain-lain. Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadith untuk mendengar hadith yang kem dihafal dan dicatatnya dengan baik di perjalanan atau ketika tiba di suatu tempat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakannya dengan seorang guru di perjalanan menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih lanjut.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmidzi meninggaol dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Guru-gurunya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia belajar dan meriwayatkan hadith dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya ia mempelajari hadith dan fiqh. Juga ia belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud. Bahkan Tirmidzi belajar pula hadith dari sebahagian guru mereka.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin ‘Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Murid-muridnya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith-hadith dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah Makhul ibnul-Fadl, Muhammad binMahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-‘Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Kekuatan Hafalannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu ‘Isa at-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadith, kesalehan dan ketaqwaannya. Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercayai, amanah dan sangat teliti. Salah satu bukti kekuatan dan cepat hafalannya ialah kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud, yang berkata: </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid berisi hadith-hadith yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahawa dialah orang yang ku maksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahawa “dua jilid kitab” itu ada padaku. Ternyata yang ku bawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya telah bertemu dengan dia, saya memohon kepadanya untuk mendengar hadith, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadith yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahawa kertas yang ku pegang masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Demi melihat kenyataan ini, ia berkata: ‘Tidakkah engkau malu kepadaku?’ Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahawa apa yang ia bacakan itu telah ku hafal semuanya. ‘Cuba bacakan!’ suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadith yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadith yang tergolong hadith-hadith yang sulit atau garib, lalu berkata: ‘Cuba ulangi apa yang ku bacakan tadi,’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai; dan ia berkomentar: ‘Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.” </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Pandangan Para Kritikus Hadith Terhadapnya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadith, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok “Tsiqah” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kukuh hafalannya, dan berkata:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">&#8220;Tirmidzi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadith, menyusun kitab, menghafal hadith dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadith menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadith yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-Jarh wat-Ta’dil. Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al-Jami’us Shahih sebagai bukti atas keagungan darjatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadith yang sangat mendalam.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Fiqh Tirmidzi dan Ijtihadnya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Tirmidzi, di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadith yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fikih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Salah satu contoh ialah penjelasannya terhadap sebuah hadith mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">“Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi az-Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda: ‘Penangguhan membayar hutang yang dilakukan oleh si berhutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan hutangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan hutang itu diterimanya.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Tirmidzi memberikan penjelasan sebagai berikut:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian ahli ilmu berkata: “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.” Diktum ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian ahli ilmu yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Mereka memakai ala an dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Itulah salah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, bahawa betapa cemerlangnya pemikiran fiqh Tirmidzi dalam memahami nas-nas hadith, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karyanya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Imam Tirmidzi banyak menulis kitab-kitab. </span><span>Di antaranya:</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Al-‘Ilal.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab At-Tarikh.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Az-Zuhd.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Al-Asma’ wal-kuna.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di antara kitab-kitab tersebut yang paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Sekilas tentang Al-Jami’</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Tirmidzi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolonga salah satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadith) dan ensiklopedia hadith terkenal. </span><span>Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmidzi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama Sunan Tirmidzi. Namun nama pertamalah yang popular.</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian ulama tidak berkeberatan menyandangkan gelar as-Shahih kepadanya, sehingga mereka menamakannya dengan Shahih Tirmidzi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan terlalu gegabah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Setelah selesai menyususn kitab ini, Tirmidzi memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka senang dan menerimanya dengan baik. Ia menerangkan: “Setelah selesai menyusun kitab ini, aku perlihatkan kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan Khurasa, dan mereka semuanya meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut ada Nabi yang selalu berbicara.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Tirmidzi di dalam Al-Jami’-nya tidak hanya meriwayatkan hadith shahih semata, tetapi juga meriwayatkan hadith-hadith hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan dalam kitabnya itu, kecuali hadith-hadith yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fiqh. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh kerananya, ia meriwayatkan semua hadith yang memiliki nilai demikian, baik jalan periwayatannya itu shahih ataupun tidak shahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadith.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Diriwayatkan, bahawa ia pernah berkata: “Semua hadith yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.” Oleh kerana itu, sebahagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua buah hadith, yaitu:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">“Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan “dalam perjalanan.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">“Jika ia peminum khamar – minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.”</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith ini adalah mansukh dan ijma ulama menunjukan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak dalam hadith di atas, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebahagian besar ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebahagian besar ahli fiqh dan ahli hadith juga Ibn Munzir.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith-hadith da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fadha’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti kerana persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadith semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadith-hadith tentang halal dan haram. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.</font></font></span></em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><span><u><font size="2"><font face="Verdana">Imam Nasa&#8217;i </font></font></u></span></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Nasa&#8217;i juga merupakan tokoh ulama kenamaan ahli hadith pada masanya. Selain Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami&#8217; At-Tirmidzi, juga karya besar Imam Nasa&#8217;i, Sunan us-Sughra termasuk jajaran kitab hadith pokok yang dapat dipercayai dalam pandangan ahli hadith dan para kritikus hadith.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia adalah seorang imam ahli hadith syaikhul Islam sebagaimana diungkapkan az-Zahabi dalam Tazkirah-nya Abu &#8216;Abdurrahman Ahmad bin &#8216;Ali bin Syu&#8217;aib &#8216;Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi, pengarang kitab Sunan dan kitab-kitab berharga lainnya. Juga ia adalah seorang ulama hadith yang jadi ikutan dan ulama terkemuka melebihi para ulama yang hidup pada zamannya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Dilahirkan di sebuah tempat bernama Nasa&#8217; pada tahun 215 H. Ada yang mengatakan pada tahun 214 H.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Pengembaraannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia lahir dan tumbuh berkembang di Nasa&#8217;, sebuah kota di Khurasan yang banyak melahirkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar. Di madrasah negeri kelahirannya itulah ia menghafal Al-Qur&#8217;an dan dari guru-guru negerinya ia menerima pelajaran ilmu-ilmu agama yang pokok. Setelah meningkat remaja, ia senang mengembara untuk mendapatkan hadith. Belum lagi berusia 15 tahun, ia berangkat mengembara menuju Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan Jazirah. Kepada ulama-ulama negeri tersebut ia belajar hadith, sehingga ia menjadi seorang yang sangat terkemuka dalam bidang hadith yang mempunyai sanad yang &#8216;Ali (sedikit sanadnya) dan dalam bidang kekuatan periwayatan hadith.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Nasa&#8217;i merasa cocok tinggal di Mesir. Kerananya, ia kemudian menetap di negeri itu, di jalan Qanadil. Dan seterusnya menetap di kampung itu hingga setahun menjelang wafatnya. Kemudian ia berpindah ke Damsyik. Di tempatnya yang baru ini ia mengalami suatu peristiwa tragis yang menyebabkan ia menjadi syahid. Alkisah, ia dimintai pendapat tentang keutamaan Mu&#8217;awiyyah r.a. Tindakan ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa&#8217;i agar menulis sebuah buku tentang keutamaan Mu&#8217;awiyyah, sebagaimana ia telah menulis mengenai keutamaan Ali r.a.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Oleh kerana itu ia menjawab kepada penanya tersebut dengan &#8220;Tidakkah Engkau merasa puas dengan adanya kesamaan darjat (antara Mu&#8217;awiyyah dengan Ali), sehingga Engkau merasa perlu untuk mengutamakannya?&#8221; Mendapat jawaban seperti ini mereka naik pitam, lalu memukulinya sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul, dan menginjak-injaknya yang kemudian menyeretnya keluar dari masjid, sehingga ia nyaris menemui kematiannya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Wafatnya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Tidak ada kesepakatan pendapat tentang di mana ia meninggal dunia. Imam Daraqutni menjelaskan, bahawa di saat mendapat cubaan tragis di Damsyik itu ia meminta supaya dibawa ke Makkah. Permohonannya ini dikabulkan dan ia meninggal di Makkah, kemudian dikebumikan di suatu tempat antara Safa dan Marwah. Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-&#8217;Uqbi al-Misri dan ulama yang lain.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam az-Zahabi tidak sependapat dengan pendapat di atas. Menurutnya yang benar ialah bahawa Nasa&#8217;i meningal di Ramlah, suatu tempat di Palestina. Ibn Yunus dalam Tarikhnya setuju dengan pendapat ini, demikian juga Abu Ja&#8217;far at-Tahawi dan Abu Bakar bin Naqatah. Selain pendapat ini menyatakan bahawa ia meninggal di Ramlah, tetapi yang jelas ia dikebumikan di Baitul Maqdis. Ia wafat pada tahun 303 H.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Sifat-sifatnya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Ia bermuka tampan. </span><span>Warna kulitnya kemerah-merahan dan ia senang mengenakan pakaian garis-garis buatan Yaman. Ia adalah seorang yang banyak melakukan ibadah, baik di waktu malam atau siang hari, dan selalu beribadah haji dan berjihad.</span></font></font><font size="2"><font face="Verdana"><span>Ia sering ikut bertempur bersama-sama dengan gabenor Mesir. Mereka mengakui kesatriaan dan keberaniannya, serta sikap konsistensinya yang berpegang teguh pada sunnah dalam menangani masalah penebusan kaum Muslimin yang tetangkap lawan. Dengan demikian ia dikenal senantiasa &#8220;menjaga jarak&#8221; dengan majlis sang Amir, padahal ia tidak jarang ikut bertempur besamanya. Demikianlah. </span><span>Maka, hendaklah para ulama itu senantiasa menyebar luaskan ilmu dan pengetahuan. </span><span>Namun ada panggilan untuk berjihad, hendaklah mereka segera memenuhi panggilan itu. Selain itu, Nasa&#8217;i telah mengikuti jejak Nabi Dawud, sehari puasa dan sehari tidak.</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Fiqh Nasa&#8217;i</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia tidak saja ahli dan hafal hadith, mengetahui para perawi dan kelemahan-kelemahan hadith yang diriwayatkan, tetapi ia juga ahli fiqh yang berwawasan luas.</font></font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Daraqutni pernah berkata mengenai Nasa&#8217;i bahawa ia adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang fiqh pada masanya dan paling mengetahui tentang hadith dan perawi-perawi.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ibnul Asirr al-Jazairi menerangkan dalam mukadimah Jami&#8217;ul Usul-nya, bahawa Nasa&#8217;i bermazhab Syafi&#8217;i dan ia mempunyai kitab Manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Safi&#8217;i, rahimahullah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karyanya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Imam Nasa&#8217;i telah menusil beberapa kitab besar yang tidak sedikit jumlahnya. </span><span>Di antaranya:</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">As-Sunan ul-Kuba.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">As-Sunan us-Sughra, tekenal dengan nama Al-Mujtaba.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Khasa&#8217;is.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Fada&#8217;ilus-Sahabah.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Al-Manasik.</font></font></span><span><br />
<font size="2"><font face="Verdana">Di antara karya-karya tersebut, yang paling besar dan bemutu adalah Kitab As-Sunan. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Sekilas tentang Sunan An-Nasa&#8217;i</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Nasa&#8217;i menerima hadith dari sejumlah guru hadith terkemuka. Di antaranya ialah Qutaibah Imam Nasa&#8217;i Sa&#8217;id. Ia mengunjungi kutaibah ketika berusia 15 tahun, dan selama 14 bulan belajar di bawah asuhannya. Guru lainnya adalah Ishaq bin Rahawaih, al-Haris bin Miskin, &#8216;Ali bin Khasyram dan Abu Dawud penulis as-Sunan, serta Tirmidzi, penulis al-Jami&#8217;.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh para ulama yang tidak sedikit jumlahnya. Antara lain Abul Qasim at-Tabarani, penulis tiga buah Mu&#8217;jam, Abu Ja&#8217;far at-Tahawi, al-Hasan bin al-Khadir as-Suyuti, Muhammad bin Mu&#8217;awiyyah bin al-Ahmar al-Andalusi dan Abu Bakar bin Ahmad as-Sunni, perawi Sunan Nasa&#8217;i.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Ketika Imam Nasa&#8217;i selesai menyusun kitabnya, As-Sunan ul-Kubra, ia lalu menghadiahkannya kepada Amir ar-Ramlah. Amir itu bertanya: &#8220;Apakah isi kitab ini shahih seluruhnya?&#8221; &#8220;</span><span>Ada</span><span> yang shahih, ada yang hasan dan ada pula yang hampir serupa dengan keduanya,&#8221; jawabnya. &#8220;Kalau demikian,&#8221; kata sang Amir, &#8220;Pisahkan hadith-hadith yang shahih saja.&#8221; Atas permintaan Amir ini maka Nasa&#8217;i berusaha menyeleksinya, memilih yang shahih-shahih saja, kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab yang dinamakan As-Sunan us-Sughra. Dan kitab ini disusun menurut sistematika fiqh sebagaimana kitab-kitab Sunan yang lain.</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Nasa&#8217;i sangat teliti dalam menyususn kitab Sunan us-Sughra. Kerananya ulama berkata: &#8220;Kedudukan kitab Sunan Sughra ini di bawah darjat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kerana sedikit sekali hadith dha&#8217;if yang tedapat di dalamnya.&#8221; </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Oleh kerana itu, kita dapatkan bahawa hadith-hadith Sunan Sughra yang dikritik oleh Abul Faraj ibnul al-Jauzi dan dinilainya sebagai hadith maudhu’ kepada hadith-hadith tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima. As-Suyuti telah menyanggahnya dan mengemukakan pandangan yang berbeda dengannya mengenai sebahagian besar hadith yang dikritik itu. Dalam Sunan Nasa&#8217;i terdapat hadith-hadith shahih, hasan, dan dha&#8217;if, hanya saja hadith yang dha&#8217;if sedikit sekali jumlahnya. Adapun pendapat sebahagian ulama yang menyatakan bahawa isi kitab Sunan ini shahih semuanya, adalah suatu anggapan yang terlalu sembrono, tanpa didukung oleh penelitian mendalam. Atau maksud pernyataan itu adalah bahawa sebahagian besar ini Sunan adalah hadith shahih.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan us-Sughra inilah yang dikategorikan sebagai salah satu kitab hadith pokok yang dapat dipercaya dalam pandangan ahli hadith dan para kritikus hadith. Sedangkan Sunan ul-Kubra, metode yang ditempuh Nasa&#8217;i dalam penyusunannya adalah tidak meriwayatkan sesuatu hadith yang telah disepakati oleh ulama kritik hadith untuk ditinggalkan.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Apabila sesuatu hadith yang dinisbahkan kepada Nasa&#8217;i, misalnya dikatakan, &#8220;hadith riwayat Nasa&#8217;i&#8221;, maka yang dimaksudkan ialah &#8220;riwayat yang di dalam Sunan us-Sughra, bukan Sunan ul-Kubra&#8221;, kecuali yang dilakukan oleh sebahagian kecil para penulis. Hal itu sebagaimana telah diterangkan oleh penulis kitab &#8216;Aunul-Ma&#8217;bud Syarhu Sunan Abi Dawud pada bahagian akhir huraiannya: &#8220;Ketahuilah, pekataan al-Munziri dalam Mukhtasar-nya dan perkataan al-Mizzi dalam Al-Atraf-nya, hadith ini diriwayatkan oleh Nasa&#8217;i&#8221;, maka yang dimaksudkan ialah riwayatnya dalam As-Sunan ul-Kubra, bukan Sunan us-Sughra yang kini beredar di hampir seluruh negeri, seperti India, Arabia, dan negeri-negeri lain. Sunan us-Sughra ini merupakan ringkasan dari Sunan ul-Kubra dan kitab ini hampir-hampir sulit ditemukan. Oleh kerana itu hadith-hadith yang dikatakan oleh al-Munziri dan al-Mizzi, &#8220;diriwayatkan oleh Nasa&#8217;i&#8221; adalah tedapat dalam Sunan ul-Kubra. Kita tidak perlu bingung dengan tiadanya kitab ini, sebab setiap hadith yang tedapat dalam Sunan us-Sughra, terdapat pula dalam Sunanul-Kubra dan tidak sebaliknya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Mengakhiri pengkajian ini, perlu ditegaskan kembali, bahawa Sunan Nasa&#8217;i adalah salah satu kitab hadith pokok yang menjadi pegangan. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.</font></font></span></em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h1><u><font size="2"><font face="Verdana">Imam Ibn Majah </font></font></u></h1>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadith. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi&#8217;i al-Qarwini, pengarang kitab As-Sunan dan kitab-kitab bemanfaat lainnya. Kata &#8220;Majah&#8221; dalam nama beliau adalah dengan huruf &#8220;ha&#8221; yang dibaca sukun; inilah pendapat yang shahih yang dipakai oleh mayoritas ulama, bukan dengan &#8220;ta&#8221; (majat) sebagaimana pendapat sementara orang. Kata itu adalah gelar ayah Muhammad, bukan gelar kakeknya, seperti diterangkan penulis Qamus jilid 9, hal. 208. Ibn Katsr dalam Al-Bidayah wan-Nibayah, jilid 11, hal. 52. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Ibn Majah dilahirkan di Qaswin pada tahun 209 H, dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya dilakukan oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Pengembaraannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia berkembang dan meningkat dewasa sebagai orang yang cinta mempelajari ilmu dan pengetahuan, teristimewa mengenai hadith dan periwayatannya. Untuk mencapai usahanya dalam mencari dan mengumpulkan hadith, ia telah melakukan lawatan dan berkeliling di beberapa negeri. Ia melawat ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kufah, Basrah dan negara-negara serta kota-kota lainnya, untuk menemui dan berguru hadith kepada ulama-ulama hadith. Juga ia belajar kepada murid-murid Malik dan al-Lais, rahimahullah, sehingga ia menjadi salah seorang imam terkemuka pada masanya di dalam bidang ilmu nabawi yang mulia ini.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Aktivitas Periwayatannya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ia belajar dan meriwayatkan hadith dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Hisyam bin &#8216;Ammar, Muhammad bin Ramh, Ahmad bin al-Azhar, Bisyr bin Adan dan ulama-ulama besar lain.</font></font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sedangkan hadith-hadithnya diriwayatkan oleh Muhammad bin &#8216;Isa al-Abhari, Abul Hasan al-Qattan, Sulaiman bin Yazid al-Qazwini, Ibn Sibawaih, Ishak bin Muhammad dan ulama-ulama lainnya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Penghargaan Para Ulama Kepadanya</font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Abu Ya&#8217;la al-Khalili al-Qazwini berkata: &#8220;Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadith.&#8221; </font></font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz, melukiskannya sebagai seorang ahli hadith besarm mufasir, pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadith kenamaan negerinya.</font></font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Ibn Kasir, seorang ahli hadith dan kritikus hadith berkata dalam Bidayah-nya: &#8220;Muhammad bin Yazid (Ibn Majah) adalah pengarang kitab sunan yang masyhur. </span><span>Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadith dan usul dan furu&#8217;.&#8221;</span></font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h2><span><font size="2"><font face="Verdana">Karya-karyanya</font></font></span></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Imam Ibn Majah mempunyai banyak karya tulis, di antaranya:</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadith yang Pokok).</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Tafsir Al-Qur&#8217;an, sebuah kitab tafsir yang besar manfatnya seperti diterangkan Ibn Kasir.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.</font></font></span><span></span></p>
<h2><font size="2"><font face="Verdana">Sekilas Tentang Sunan Ibn Majah </font></font></h2>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Ibn Majah terbesar yang masih beredar hingga sekarang. Dengan kitab inilah, nama Ibn Majah menjadi terkenal.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><font size="2"><font face="Verdana"><span>Ia menyusun sunan ini menjadi beberapa kitab dan beberapa bab. </span><span>Sunan ini terdiri dari 32 kitab, 1.500 bab. Sedan jumlah hadithnya sebanyak 4.000 buah hadith.</span></font></font><span><font size="2"><font face="Verdana">Kitab sunan ini disusun menurut sistematika fiqh, yang dikerjakan secara baik dan indah. Ibn Majah memulai sunan-nya ini dengan sebuah bab tentang mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Dalam bab ini ia menguraikan hadith-hadith yang menunjukkan kekuatan sunnah, kewajiban mengikuti dan mengamalkannya.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><span><font size="2"><font face="Verdana">Kedudukan Sunan Ibn Majah di antara Kitab-kitab Hadith</font></font></span></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian ulama tidak memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam kelompok &#8220;Kitab Hadith Pokok&#8221; mengingat darjat Sunan ini lebih rendah dari kitab-kitab hadith yang lima.</font></font></span></p>
<p><font size="2"><font face="Verdana">Sebahagian ulama yang lain menetapkan, bahawa kitab-kitab hadith yang pokok ada enam kitab (Al-Kutubus Sittah/Enam Kitab Hadith Pokok), yaitu:</font></font><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Shahih Muslim, karya Imam Muslim.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan Nasa&#8217;i, karya Imam Nasa&#8217;i.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan Tirmidzi, karya Imam Tirmidzi.</font></font></span><span style="font-family:Symbol;"><span><font size="2">·</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn Majah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ulama pertama yang memandang Sunan Ibn Majah sebagai kitab keenam adalah al-Hafiz Abul-Fardl Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat pada 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan dalam risalahnya Syurutul &#8216;A&#8217;immatis Sittah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Pendapat itu kemudian diikuti oleh al-Hafiz &#8216;Abdul Gani bin al-Wahid al-Maqdisi (wafat 600 H) dalam kitabnya Al-Ikmal fi Asma&#8217; ar-Rijal. Selanjutnya pendapat mereka ini diikuti pula oleh sebahagian besar ulama yang kemudian.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Mereka mendahulukan Sunan Ibn Majah dan memandangnya sebagai kitab keenam, tetapi tidak mengkategorikan kitab Al-Muwatta&#8217; karya Imam Malik sebagai kitab keenam, padahal kitab ini lebih shahih daripada Sunan Ibn Majah, hal ini mengingat bahawa Sunan Ibn Majah banyak zawa&#8217;idnya (tambahannya) atas Kutubul Khamsah. Berbeda dengan Al-Muwatta&#8217;, yang hadith-hadith itu kecuali sedikit sekali, hampir seluruhnya telah termuat dalam Kutubul Khamsah.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Di antara para ulama ada yang menjadikan Al-Muwatta&#8217; susunan Imam Malik ini sebagai salah satu Usul us-Sittah (Enam Kitab Pokok), bukan Sunan Ibn Majah. Ulama pertama yang berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin al-Abdari as-Sarqisti (wafat sekitar tahun 535 H) dalam kitabnya At-Tajrid fil Jam&#8217;i Bainas-Sihah. Pendapat ini diikuti oleh Abus Sa&#8217;adat Majduddin Ibnul Asir al-Jazairi asy-Syafi&#8217;i (wafat 606 H). Demikian pula az-Zabidi asy-Syafi&#8217;i (wafat 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wusul.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Nilai Hadith-hadith Sunan Ibn Majah</font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Sunan Ibn Majah memuat hadith-hadith shahih, hasan, dan da&#8217;if (lemah), bahkan hadith-hadith munkar dan maudhu’ meskipun dalam jumlah sedikit. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Martabat Sunan Ibn Majah ini berada di bawah martabat Kutubul Khamsah (Lima Kitab Pokok). Hal ini kerana kitab sunan ini yang paling banyaknya hadith-hadith da&#8217;if di dalamnya. </font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Oleh kerana itu tidak sayugianya kita menjadikan hadith-hadith yang dinilai lemah atau palsu dalam Sunan Ibn Majah ini sebagai dalil. Kecuali setelah mengkaji dan meneliti terlebih dahulu mengenai keadaan hadith-hadith tersebut. Bila ternyata hadith dimaksud itu shahih atau hasan, maka ia boleh dijadikan pegangan. Jika tidak demikian adanya, maka hadith tersebut tidak boleh dijadikan dalil.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></p>
<h3><font size="2"><font face="Verdana">Sulasiyyat Ibn Majah</font></font></h3>
<p><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><span><font size="2"><font face="Verdana">Ibn Majah telah meriwayatkan beberapa buah hadith dengan sanad tinggi (sedikit sanadnya), sehingga antara dia dengan Nabi SAW hanya terdapat tiga perawi. Hadith semacam inilah yang dikenal dengan sebutan Sulasiyyat.</font></font></span><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span><em><span><font face="Verdana" size="2"> </font></span></em><em><span><font size="2"><font face="Verdana">Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.</font></font></span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuazzam.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuazzam.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuazzam.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuazzam.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuazzam.wordpress.com&amp;blog=1812815&amp;post=1&amp;subd=abuazzam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuazzam.wordpress.com/2007/09/29/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9df88f35e8662c04859c94e02fa2b1dc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abuazzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
